Kamis, 26 Januari 2012

Pelayanan Kasih

II Korintus 9:13-15

Pendahuluan:
Nats ini merupakan bagian dari penjelasan Paulus mengenai pentingnya pelayanan kasih (dijabarkan dalam ayat 1-15). Bagian ini mengisahkan tentang kekaguman Paulus terhadap para jemaat-jemaat di Makedonia; yang dengan sadar, rendah hati dan sukacita telah menyediakan diri mereka untuk terlibat dalam pelayanan kasih kepada jemaat-jemaat di lain tempat. Jemaat-jemaat di Makedonia bukanlah merupakan jemaat-jemaat yang kaya, tetapi mereka memiliki kerinduan untuk terlibat dalam setiap pelayanan Paulus; sehingga dengan segala kemampuan yang ada mereka memberikan segala apa yang mereka miliki untuk mendukung setiap pelayanan yang ada. Jadi di sini intinya bukanlah terletak pada kekayaan, melainkan pada kemauan untuk bisa memberikan yang terbaik.

Dalam memberi, jemaat-jemaat di Makedonia tidaklah pernah merasa rugi dan kehilangan; karena mereka menyadari bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah untuk membuat orang yang dibantu menjadi objek cinta kasih, melainkan mereka melakukan semua itu demi sebuah keseimbangan. Dalam pemikiran jemaat-jemaat di Makedonia, jika ada orang yang berkenan membantu orang lain maka hal itu berarti orang tersebut telah berupaya untuk membuat dunia menjadi seimbang lagi. Dalam artian demikian: Kondisi dunia sekarang berada dalam kondisi yang “berat sebelah”. Terlalu banyak kemiskinan yang terjadi, dan terlalu sedikit orang-orang yang memiliki kekayaan berlebih. Hal inilah yang menyebabkan dunia tidak berada dalam keseimbangan; dunia miring kea rah kemiskinan. Untuk menyeimbangkan dunia yang berat sebelah ini, perlu yang mampu menghimpun kekuatan bersama agar dapat mengangkat yang miskin. Sehingga melalui kepedulian seperti ini, lambat laun ketidakseimbangan ini dapat diubah menjadi sebuah keseimbangan. Dengan melalui pelayanan kasih, yang miskin mengalami kemajuan sehingga situasi berat sebelah akan menjadi seimbang kembali.


Hal ini bukan hanya berlaku dalam masalah perekonomian saja. Jika Paulus dalam II Korintus 8:13-15 berbicara tentang himbauan agar setiap orang yang mampu (memiliki kelebihan) berkenan untuk mencukupkan setiap orang yang tidak mampu; maka dalam hal ini Paulus juga berbicara tentang masalah kebijakan dan kedewasaan.

Dalam pandangan Paulus, setiap orang disebut dewasa apabila ia tidak lagi memiliki orientasi pada diri sendiri melainkan selalu mengorientasika dirinya pada kesejahteraan sesama (orang lain). Jika seseorang memiliki jiwa dewasa, maka selayaknya juga ia akan berupaya untuk berbagi kesejahteraan hidup kepada setiap orang yang dilihatnya perlu untuk mendapat dukungan. Semua ini dilakukan agar dalam dunia ini terjadi keseimbangan.

Relevensi:
Dewasa ini dunia marak denga segala kejahatan yang ada. Dimana-mana peperangan, dendam, angkara murka dan setiap keinginan daging terungkap ke permukaan kehidupan dengan sangat nyata. Di sana-sini orang saling memusuhi satu sama lain, saling menjatuhkan, saling fitnah, dan saling menghancurkan. Kedamaian hanya menjadi sebuah pembicaraan indah, karena ketika hal itu sampai pada tatanan praktek, banyak orang berlomba untuk menghindari upaya berdamai dengan sesamanya. Akibat dari semua ini situasi dunia menjadi berat sebelah. Condong pada kejahatan, dan kebaikan serta kedamaian lambat laun tersingkir secara pasti.

Dalam situasi seperti inilah himbauan Paulus berlaku bagi setiap anak Tuhan. Paulus meminta agar setiap anak Tuhan (umat Tuhan) yang memiliki kelebihan dalam hal kebaikan dan kebajikan mulai berbagi dan membagikan segala kebaikan tersebut kepada dunia. Setiap umat Tuhan dipanggul untuk bersama-sama mengupayakan perdamaian, kebaikan, pengampunan dan kesejahteraan bagi setiap orang yang sedang hidup dalam kegelapan. Setiap umat Tuhan harus menyadari bahwa dirinya sudah berada dalam taraf kedewasaan, sehingga setiap umat Tuhan harus dan wajib berbagi kasih kepada sesama manusia.

Paulus menekankan dan menandaskan hal ini secara transparan. Ia berkata semua orang yang memiliki kelebihan harus mau berbagi kepada mereka yang berkekurangan. Itu berarti setiap orang yang memiliki kelebihan dalam hal kebajikan harus mau berbagi dan mengajarkan hal itu kepada mereka yang tidak mengenal kebajikan. Setiap orang yang memiliki pengampunan harus berbagi pengampunan kepada mereka yang pernah berlaku salah, sehingga pada akhirnya – nanti – setiap orang akan mengenal dan memahami bahwa dunia ini akan selalu tampak indah bila setiap orang bisa mempraktikkan setiap unsur buah-buah Roh dalam kehidupan yang mereka jalani.

Pelayanan Kasih merupakan sarana pengajaran, pembelajaran dan pembiasaan untuk saling mengampuni satu sama lain. Melalui Pelayanan Kasih setiap orang diajarkan dan dibiasakan untuk saling mengampuni. Dalam Pelayanan Kasih setiap orang diampuni; dan dalam peristiwa yang sama setiap orang diajak untuk mengampuni sesamanya. Mengapa ini harus dilakukan? Jawabannya adalah UNTUK SEBUAH KESEIMBANGAN. Jika kita sudah saling mengampuni, maka dunia akan menjadi seimbang dan keindahan dunia akan tampak dalam kehidupan bersama kita.

Sebab itu marilah kita memiliki pembiasaan untuk saling mengampuni, karena Tuhan kita adalah Tuhan yang terbiasa untuk mengampuni – AMIN!

Penulis : Pdt. Firman Pandjaitan, Mth.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar