Tampilkan postingan dengan label Kesaksian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesaksian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2011

"Vonis Tuhan"

Tanggal 18-02-2011 (terbit tgl. 22-02-2011) saya menulis kesaksian mengenai perjuangan seorang ibu muda dalam melawan kanker rahim stadium 3 dengan judul Menanti “Vonis Tuhan”. Hari minggu tanggal 15-05-2011 saya mendengar berita bahwa awal Mei 2011 Tuhan telah memanggil Ibu muda tersebut (Ibu Lukas) ke pangkuan kudus Bapa Surgawi.

Perjuangan iman yang luar biasa telah ditunjukan ibu muda ini, sekalipun menderita tapi mau dan mampu berbagi kasih, berkat dan kabar gembira yang menyatakan bahwa begitu luar biasanya Tuhan sayang kepada umatNya. Saya percaya perjuangan iman ibu Lukas tidaklah sia-sia karena tujuan akhir manusia adalah bersekutu dengan Tuhan, dan saat ini Tuhan telah menyediakan tempat yang layak bagi ibu Lukas.

Terima kasih Ibu Lukas atas kesaksiannya yang luar biasa dan memberi :
- pengajaran akan iman yang teguh
- pengajaran akan menerima hidup yang sesungguhnya
- pengajaran akan pengenalan Kristus Yesus
- pengajaran akan kepasrahan kepada Kristus Yesus

dan masih banyak lagi pengajaran dan makna yang bisa kami ambil dari kesaksian yang telah Ibu Lukas sampaikan...... kami percaya saat ini Ibu Lukas dalam dekapan dan damai sejahtera yang abadi Bapa Surgawi. Amin.

Senin, 28 Maret 2011

Cacat Ganda

Rabu tanggal 16 Maret 2011 sekitar jam 12.00 saya beserta beberapa rekan kantor tiba disebuah Panti Asuhan Bhakti Asih yang diperuntukkan bagi penderita cacat ganda. Mengapa dikatakan cacat ganda?…. penderita cacat ganda mengalami cacat bukan hanya secara phisik saja tapi mental juga. Jumlah penderita cacat ganda yang ada di Panti Asuhan Bhakti Asih berjumlah 26 orang yang berumur mulai 16 bulan sampai 30 tahun. Perawat yang melayani mereka sebanyak 16 orang, bukanlah jumlah personil yang memadai karena mereka harus melayani selama 24 jam, sehingga harus dibagi dalam 3 shift (pagi, siang dan malam). Ada hal yang sungguh luar biasa terjadi, walaupun personil kurang memadai tapi semua penderita cacat ganda kelihatan selalu bersih dan terawat.

Keberadaan mereka di Panti Asuhan Bhakti Asih sebagian besar dikirim dari yayasan lain (misalnya anak yatim piatu) dan dititip oleh orang tuanya. Suatu kenyataan, sebuah keluarga mengadopsi bayi dari suatu panti asuhan anak yatim piatu, ketika waktu berjalan dan mengetahui anak yang diadopsinya menderita kelainan (cacat ganda), sang orang tua mengembalikan bayi tersebut ke Panti Asuhan ini… dan bayi itu saat ini baru berusia 16 bulan.

Selasa, 15 Maret 2011

Berbahagialah Walau Tidak Melihat….

“Mama sakit…. tensinya tinggi dan penyakit jantungnya kambuh lagi... jadi mama harus di opname, Vid... kalau bisa bantu kami juga masalah biaya pengobatan dan rumah sakit”, kata abang saya di Jakarta lewat telepon. Kabar yang sangat mengejutkan karena baru dua hari yang lalu saya kembali ke Bandung setelah menemui mama dan saat itu mama benar-benar sehat. Konsentrasi buyar dan rekan-rekan kerja sepertinya langsung tahu ada berita yang kurang baik waktu melihat perubahan wajah dan tingkah laku saat  saya menerima telepon.

Rekan senior saya datang dan bertanya: “ada berita apa? kelihatannya kurang baik yah... “, “orang tua saya sakit Pak... harus diopname” dan saya menceritakan semua kepada mereka. “Untuk bantuan biaya pengobatan dan rumah sakit kamu bisa pinjam ke koperasi” sarannya. "Tapi Pak... saya karyawan baru disini... belum satu tahun dan masih berstatus calon pegawai sementara biaya yang dibutuhkan tidak sedikit", jawab saya lesu. “Sudah coba saja dulu... saya akan mereferensikan ke pihak koperasi, kalau memang nggak bisa... biar pinjaman itu atas nama saya.... ini masalah yang serius masa nggak ada pertimbangan...., kata senior dengan bijak.

Rabu, 09 Maret 2011

Tuhan Peduli

Sabtu pagi di kota Bandung saat itu udara cerah ditahun 1991, seorang pemuda bangun dari tidurnya dan merenungkan apa yang akan dia kerjakan untuk menghabiskan hari yang baginya begitu panjang karena kondisi keuangan yang benar-benar menghimpitnya.
“Hari ini tak ada uang sesenpun” gerutunya, berarti hari ini dan esok tidak ada makanan yang bisa masuk keperut selain air putih, sementara sabtu dan minggu kantor libur sehingga tidak bisa meminjam uang di kas kantor.

Akhirnya pemuda itu putuskan pergi kekantor yang kebetulan tidak terlalu jauh dari kos-kosannya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit. Sambil melamun ia berjalan kaki menuju kantornya, dalam perjalanan tanpa disangka ia menemukan uang dipinggir jalan, wah... rejeki nomplok nih... gumamnya dan mengambil uang tersebut yang ternyata sejumlah Rp. 5.000,- dalam bentuk pecahan Rp. 1.000,- yang dilipat-lipat sampai kecil. Sambil tersenyum ia melanjutkan perjalanannya dan membayangkan hari ini dan esok ia bisa makan. “Terima kasih Tuhan atas berkat yang Kau berikan kepadaku” doanya dalam hati.

Selasa, 22 Februari 2011

Menanti "Vonis Tuhan"

Dengan mengendarai motor sekitar jam 12.50 WIB, kami (saya, istri dan tujuh saudara seiman) berangkat untuk mengikuti kebaktian hari minggu tanggal 6 Februari 2011 di sebuah desa yang namanya Desa Panji Baru di Kecamatan Mijen Semarang. Perjalanan cukup lancar tanpa ada hambatan sekalipun jalan raya yang semakin menyempit. Kondisi jalan bisa dibilang sepi, hanya sesekali kami berpapasan dengan motor lainnya sementara kendaraan roda empat jarang melalui jalan itu sekalipun jalannya bisa dibilang cukup mulus. Itu bisa dimaklumi karena jalan tersebut menuju perkebunan karet.

Hingga disuatu persimpangan, kami membelokan motor masuk ke Desa Panji Baru, jalan yang semula mulus kini memasuki jalan yang bergelombang karena jalan tidak sepenuhnya menggunakan paving blok (sebagian tanah sebagian lagi paving blok) dan agak licin karena paving blok sudah banyak yang berlumut dan tanah yang baru terkena air hujan.