Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Oktober 2012

Etika Kristen

Etika

  • Secara etimologis berasal dari kata Yunani: ethos, ethikos (adat, kebiasaan, praktek). -> sebagaimana yang diucapkan oleh Aristoteles, kata ini juga mencakup ide tentang “karakter” dan “disposisi” (kecondongan).
  • Dengan demikian ETIKA merupakan ilmu atau studi mengenai norma-norma yang mengatur tingkah laku manusia. Oleh karena itu, Etika selalu merupakan tindakan yang dilakukan dengan sadar dan sengaja.
  • Secara sederhana dapat dikatakan bahwa etika itu berbicara tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, tentang apa yang benar, baik dan tepat.

Selasa, 18 September 2012

Pentingnya Sebuah Perkunjungan Gerejawi

Dasar dari Sebuah Perkunjungan

Perkunjungan (jw.: Patuwen) adalah kegiatan yang pada hakikatnya merupakan tindakan manusiawi untuk membangun dan mengembangkan relasi antar sesama. Dengan melihat sisi positif dari perkunjungan, maka gereja menempatkan perkunjungan ke dalam aktivitas gerejawi untuk menjaga kesinambungan hidup gereja dengan cara memperhatikan kehidupan jemaat dan menempatkan jemaat dalam posisi yang terpenting dalam kehidupan bergereja.

Hal ini semakin mendasar ketika kita melihat bahwa dalam kehidupan-Nya, Tuhan Yesus pun pernah mengatakan bahwa IA adalah Gembala Yang Baik, yang selalu mengenal domba-domba-Nya dan bahkan yang rela memberikan nyawa-Nya untuk keselamatan para domba-Nya. Ini menunjukkan betapa berartinya domba itu bagi Sang Gembala Agung. Bagi Tuhan Yesus, yang penting bukanlah mempertahankan hidup-Nya sendiri, melainkan memberikan hidup-Nya untuk menghidupi domba-domba-Nya.

Rabu, 05 September 2012

Share of Truth : Pembasuhan Kaki

Hola the favored of God! Mau share aja firman Tuhan dari kebaktian yang dibawain sama Ps.Ivan Tanudjaja. Hope this share bisa bikin kita semakin bertumbuh dalam kebenaran.

Perayaan jumat agung reminds us the love of God yang ditunjukkan melalui pengorbanan-Nya 2000 tahun yang lalu di kayu salib. Dan how thankful we are, karena Dia sempurna, tak berdosa, tak bercacat, pengorbanan-Nya yang sekali terjadi berlaku untuk menebus dosa kita yang dulu, sekarang, bahkan yang akan datang. Pengorbanan-Nya yang sekali berlaku keeping on – terus-menerus – menyucikan kita tiap hari, sampai selamanya. As said in Heb 10:1-4,

 (1) For the law having a shadow of good things to come, [and] not the very image of the things, can never with those sacrifices which they offered year by year continually make the comers thereunto perfect. (2) Foot then would they not have ceased to be offered? Because that the worshippers once purged should have had no more conscience of sins. (3) But in those [sacrifices there is] a remembrance again [made] sins every year. (4) For [it is not] possible that the blood of bulls and of goats should take away sins.

Kamis, 23 Agustus 2012

Menghadirkan Syalom dalam Kehidupan

Bacaan    : Mikha 5:1-4
Nats        : Mikha 5:3
Tujuan     : Agar Jemaat memiliki semangat untuk menjadi Syalom Kehidupan.

Tafsiran Perikop
Secara naratif, perikop yang kita perhatikan saat ini adalah salah satu bagian dari pasal 4:1 – 5:14, yang membicarakan tentang Pertemuan Orang Miskin dan Tersisih. Dengan demikian, harapan mesianis yang muncul dalam perikop yang kita amati ini adalah sebuah pengharapan yang muncul di kalangan orang miskin dan tersisih. Hal ini tidak dapat dipungkiri, karena hanya merekalah yang memang sangat mengharapkan pembebasan; bukan orang kaya dan berkuasa! Jadi syarat khusus dari sebuah pengharapan terhadap pembebasan adalah situasi yang menekan sehingga mengakibatkan orang-orang merasa tertindas dan menjadi miskin.

Rabu, 16 Mei 2012

Kerja


1.      Mengapa harus bekerja?
Banyak orang beranggapan salah mengenai alasan mengapa manusia harus bekerja. Umumnya mereka merujuk pada Kej. 3:17-19 yang mengisahkan mengenai hukuman Allah kepada manusia, sehingga manusia harus bersusah payah dalam bekerja dan mencari rejeki... Melalui rujukan ini, timbullah pendapat yang mengatakan bahwa bekerja adalah akibat dari hukuman Tuhan. Apakah memang benar demikian?

Saya melihat tidak! Jika hendak merujuk pada dasar teologis mengapa manusia harus bekerja, maka bagian kitab Kejadian yang harus diteliti adalah Kej. 1:26-28. Di dalam bagian ini ditegaskan bahwa manusia telah diserahkan mandat untuk mengupayakan dan mengusahakan bumi, dan tugas ini diberikan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa! Dari sini dapat dilihat bahwa kerja sebenarnya merupakan karunia/ anugerah Allah yang luar biasa, karena dengan bekerja manusia sedang mengemban mandat dan kepercayaan Allah.

Nah, kalau begitu halnya, bagaimana dengan Kej. 3:17-19 di atas? Saya melihat bahwa bagian ini hendak menekankan aspek susah payah dalam bekerja yang merupakan hukuman Allah atas dosa manusia. Kerja yang semula anugerah Allah yang indah dan memberi sukacita, sekarang berubah menjadi sesuatu yang berat dan menjemukan.

Minggu, 06 Mei 2012

Homiletika

Sebuah Pengantar

Preaching is you!
  1. Dilihat dari segi bahasa, kata HOMILETIKA berasal dari kata homilein (Yunani) yang berarti berbicara. Kemudian kata ini berkembang serta mendapat arti baru ketika membentuk kata Homily/Homiletics, yang berarti Seni Berkotbah.

  2. Dalam bahasa Inggris, Kata Homilein ini diterjemahkan menjadi Preach, yang berarti memberitakan dan/ atau berkotbah. Yang mengandung pengertian bahwa upaya memberitakan itu dilakukan setelah seseorang telah mendapat berita terlebih dahulu.

  3. Dengan berpatokan pada butir 2, maka dapat diambil sebuah pemahaman bahwa seorang pengkotbah adalah orang yang terlebih dahulu mendapatkan berita dan baru kemudian menyampaikan berita kepada orang lain.

Senin, 06 Februari 2012

Kesaksian dan Pelayanan

- Gereja yang menata dirinya sendiri -

Sejak berdirinya gereja, tidak pernah sekalipun gereja tidak diterpa badai/prahara; Selalu saja ada peristiwa yang menimpa gereja. Ini menunjukkan bahwa Gereja sungguh-sungguh hidup di dunia yang penuh dengan berbagai macam kemungkinan. Dan sekaligus hal ini juga yang dibutuhkan oleh Gereja agar Gereja bisa terus eksis dalam kehidupan nyata di dunia ini. Jika Gereja hanya berada dalam kenyamanan saja, maka Gereja tidak akan pernah bisa merasakan hidup yang sesungguhnya. Jadi berbahagialah Gereja yang selalu dirundung oleh berbagai macam pergumulan (catatan: tetapi hal ini jangan diartikan bahwa Gereja harus memuja penderitaan, sehingga menumbuhkan sikap masochistic = sikap yang mencintai penderitaan/ kesengsaraan).

Senin, 02 Januari 2012

Pelayanan

Apakah itu?
 
Sebuah perenungan terhadap makna

Kita pasti sudah akrab dengan kata PELAYANAN, sehingga mungkin mudah sekali kita menjawab pertanyaan di atas. Tapi bisa juga karena terlalu sering mendengar dan akrab dengan kata tersebut, pada akhirnya kita sama sekali tidak mengerti tentang makna kata itu. Ambillah contoh seperti ini: banyak orang mengaku bahwa mereka adalah pelayan bagi masyarakat, tetapi dalam kenyataannya mereka justru memperseulit setiap kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat (ini terjadi di instansi-instansi) atau banyak orang yang mengaku bahwa mereka adalah pelayan bagi umat, tetapi yang terjadi adalah mereka memaksa umat untuk menghormati dan menempatkan mereka di posisi yang paling terhormat (ini acap kali terjadi di lembaga-lembaga keagamaan).

Rabu, 26 Oktober 2011

Sebuah Doa

Berkat dan anugerah melimpah selalu kami terima setiap hari dari Bapa
Tiada hari tanpa kasih sayang Bapa yang tulus, agung dan mulia tercurah dalam setiap langkah hidup kami, sekalipun dalam keseharian beraktivitas kami sering melupakan hal itu, dan seakan ungkapan rasa syukur dan terima kasih yang kami panjatkan hanyalah formalitas belaka agar Bapa senang mendengarnya.

Bapa....
Ajari kami mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih dengan sungguh.
Ajari kami untuk merasakan dan memahami kasih kudusMu bagi hidup kami.
Ajari kami memiliki rasa sayang, cinta dan kasih kepadaMu.
Ajari kami menyadari akan keagungan dan kemuliaanMu.
Ajari kami menjadi pelayan bagi sesama terutama bagiMu.
Ajari kami melayani bukan karena ikut-ikutan melihat orang yang melayani.
Ajari kami melayani bukan karena berharap dapat berkat melimpah dariMu.
Ajari kami melayani sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kami karena :
Bapa terlebih dahulu telah melayani kami.
Bapa terlebih dahulu telah menyayangi, mengasihi dan mencintai kami.
Bapa terlebih dahulu telah mengorbankan putraMu bagi kami.

Jangan biarkan kesia-sian yang selalu kami lakukan dalam keseharian.
Jangan biarkan kami mencari pujian dari sesama, tetapi hanya pujian dari Bapa.
Jangan biarkan kami hanya bisa menasehati namun tidak bisa merealisasikan.
Jangan biarkan kami hanya bisa berdoa namun tidak berusaha.

Mampukan kami memahami keinginan Bapa terhadap kami.
Mampukan kami memahami dan melakukan firmanMu dengan baik menurut Bapa.
Mampukan kami mengatasi keinginan daging ini.
Mampukan kami memberi dan berbagi tanpa menuntut balasan.

Kami milik Bapa, sudah selayaknya Bapa berkarya dan berkehendak atas diri dan hidup kami. Jangan biarkan kedagingan kami menguasai hidup indah yang telah Bapa berikan ini, tetapi biarlah hanya karya agung Bapa yang boleh terpancar dalam setiap langkah hidup dan detak nafas hidup kami.
Engkau, Bapa yang berkuasa atas segala yang ada di alam semesta ini, terpujilah namaMu kekal selama-lamanya dan jadilah kehendakMu..

Amin

Senin, 29 Agustus 2011

Misi Dalam Perspektif Kristologis


Sebagai iman yang memiliki visi dengan penekanan pada pelayanan pendamaian sebagai wujud nyata dalam menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia, maka iman Kristen harus dapat menjabarkan visinya tersebut dalam sebuah gerak misi yang dapat mewakili segala keberadaan visi tersebut. Meminjam pemahaman bahwa teologi hanya dapat dikatakan sebagai bentuk teologi apabila ia sungguh-sungguh berada dalam konteks setempat (kontekstual), karena pada hakikatnya teologi adalah upaya dialektis, kreatif dan eksistensial antara “teks” dengan konteks setempat atau antara “kerygma” yang universal dengan kenyataan hidup yang kontekstual; maka saya pun berpendapat bahwa misi yang harus dijalankan adalah misi yang selalu bersapaan dengan budaya/kultur dan struktur sosial dalam konteks setempat dengan didasarkan atas visi yang melatarbelakangi tumbuhnya gerak misi tersebut. Hal ini mengimplikasikan bahwa setiap kegiatan misi harus mampu untuk menyapa dan hidup berdampingan dengan budaya setempat.