Dasar Pemikiran:
Identitas diri membentuk perilaku dan sikap hidup seseorang. Identitas diri membantu seseorang untuk mengetahui siapa dirinya dan apa peran yang harus dimainkannya dalam dunia ini, agar hidupnya berguna bagi kehidupan bersama. Dalam kehidupan Kristiani, identitas diri terletak dalam kemampuan untuk berbuat kasih kepada sesama, karena selama ini seorang Kristen telah merasakan betapa kasih Allah telah hidup dan menghidupi dirinya. Dengan demikian, melalui kasih kita mewujudkan sebuah kehidupan yang membarui dan menghidupkan kehidupan bersama.
Tafsiran Singkat:
Konteks bacaan pada hari ini adalah tentang nasihat Yesus kepada para murid sebelum IA menjalani derita salib -> semacam pengajaran perpisahan seorang guru kepada murid-murid yang dikasihi. Yesus memulai percakapan dengan kesebelas murid setelah Yudas meninggalkan mereka; yang menjadi makna simbolik bahwa masa pemuliaan Yesus akan terjadi sebentar lagi. Dalam percakapan ini, Yesus memberikan penghiburan, kekuatan, perintah dan juga mempersiapkan para murid untuk menghadapi segala keadaan yang akan terjadi pada diri-Nya dan pada mereka.
Dalam awal percakapan Yesus menegaskan bahwa kemuliaan-Nya akan terjadi karena kesediaan-Nya mematuhi kehendak Bapa, yaitu berjalan dalam jalan salib bagi keselamatan umat manusia. Kemuliaan terjadi karena Yesus bersedia mengosongkan diri demi kasih-Nya kepada umat manusia. Kegelapan akan dikalahkan oleh terang Kasih. Karena itu, Yesus menekankan agar para murid bersedia hidup di dalam kasih. Namun yang dimaksud di sini bukanlah kasih sebagaimana yang selama ini dipahami, melainkan kasih yang didasarkan atas panggilan Yesus untuk saling mengasihi seperti Yesus telah mengasihi mereka. Inilah makna dari perintah baru, yaitu mengasihi sesama seperti Yesus mengasihi manusia. Mengasihi yang tidak didasarkan atas kepentingan, bahkan mengasihi yang diiringi dengan pengampunan terhadap orang yang pernah menghancurkan hidup mereka. Kasih yang benar adalah seperti yang diajarkan oleh Yesus Kristus, yaitu KASIH YANG MESKIPUN...
Relevansi
Pertanyaannya, bagaimana kita pada masa kini dapat mengasihi sesama kita seperti Yesus telah mengasihi manusia?
- Kasih yang dikembangkan haruslah kasih yang didasarkan atas kepedulian (care) terhadap sesama. Sebelum memberi perintah supaya saling mengasihi, terlebih dahulu Yesus mempraktikkan sebuah bentuk kasih, yaitu membasuh kaki para murid. Pembasuhan ini di samping berarti menunjukkan kesediaan melayani di dalam kerendahan hati, juga merupakan ungkapan untuk menghargai dan memperlakukan setiap orang sebagai pribadi yang berharga dan bermartabat.
- Kasih yang ditumbuhkan harus lahir dari sikap empatis terhadap sesama. Kasih seperti ini tidak akan jatuh pada sikap egosentris, yang hanya mencari sensasi, popularitas dan menuntut balas dari orang yang dikasihinya.
- Kasih yang dikembangkan haruslah kasih yang mengampuni, karena kasih yang tidak diikuti dengan pengampunan merupakan kasih yang mudah layu dan gugur. Tidak ada kesalahan yang tidak dapat diampuni! Kasih sejati selalu dibangun di atas dasar pengampunan.
- Kasih yang ditumbuhkan adalah kasih yang bersolidaritas kepada mereka yang tersisihkan atau terlupakan dalam masyarakat. Di sekitar kita banyak orang yang tersisihkan dan terlupakan, seperti orang tua, anak, anggota keluarga atau warga jemaat yang hidup dalam garis kemiskinan. Menyisihkan dan melupakan mereka sama saja menganggap mereka tidak ada. Dan untuk memperbaiki kemanusiaan mereka dapat dilakukan dengan memberikan perhatian dan pertolongan yang diperlukan.
Ucapan Yesus kepada para murid (kita) ini menegaskan bahwa mengasihi sesama bukanlah sebuah pilihan, melainkan tindakan yang harus dilakukan sebagai bentuk ketaatan pada kehendak Allah. Kasih tidak pernah terjadi dalam ruang hampa, tetapi selalu terjadi dalam interaksi antar pribadi. Oleh sebab itu, identitas diri yang berupa kasih ini harus terus dihidupkan agar kita dapat menjadi orang yang menghidupkan kehidupan. Kalau Yesus sudah mengurbankan diri demi kasih-Nya kepada manusia, maka kita pun harus berani dan bisa untuk menunjukkan kasih kita kepada sesama sebagai wujud dari identitas diri kita yang sejati.
Selamat hidup dalam kasih; TUHAN memberkati.
Penulis : Pdt. Firman Pandjaitan, Mth

Tidak ada komentar:
Posting Komentar