Kamis, 03 November 2011

Formalitas

Kita terbuai saat menyaksikan adegan film yang menyedihkan.... kadang berangan-angan... andai saya yang seperti itu, mungkin saya melakukan ini itu yang cenderung agar kesedihan tidak terlalu mendalam.

Film The Passion Of The Christ sungguh menelanjangi kita.... betapa lemahnya kita dalam menjalankan komitmen kepada Tuhan. Kita terbawa hanyut dalam setiap hentakan nafas hidup saat penyiksaan dan penyaliban Kristus....
kita ingin agar hidup jadi lebih baik dan mencoba untuk meneladani Kristus.... komitmen terbentuk saat kita terhanyut dalam fim itu.

Film selesai.... akankah komitmen tetap teguh dalam hati?, akankah ada perubahan dalam segala aspek hidup ini?, akankah lebih menekuni dan memahami firman Tuhan?, akankah selalu teringat dan terbayang penderitaan Kristus di kayu salib?, akankah?.... akankah?... akankah???

Formalitas terbentuk bila rancangan atau rencana tidak mengakar dalam hati kudus setiap manusia. Manusia biasanya lebih suka dipandang baik oleh sesamanya dibanding menurut pandangan Tuhan. Pujian mulut manusia seperti lebih berharga dari pada pujian Tuhan.

Gunakan hati nurani dalam berkomitmen (apalagi kepada Tuhan), maka tidak akan ada yang namanya formalitas. Semua berjalan bagai suatu rancangan yang berjalan dengan tatanan yang indah, bahkan disempurnakan oleh Sang Pencipta alam semesta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar