Tafsir :
- Di awal pasal 3 Paulus mengingatkan jemaat bahwa Kristus adalah kehidupan kita. Bagi Paulus dan bagi orang Kristen, Kristus adalah yang terpenting dalam hidup ini; bahkan lebih lagi: KRISTUS ADALAH KEHIDUPAN.
- Jika setiap orang beriman menjadikan Kristus sebagai kehidupan mereka, maka sebagai orang yang hidup di dalam DIA mereka harus melakukan hal-hal sebagai berikut:
- mematikan yang jahat dari masa lalu yang tidak berkenan bagi Kristus, seperti percabulan dan kenajisan, hawa nafsu dan nafsu jahat, keserakahan yang disejajarkan dengan penyembahan berhala.
- membuang segala sifat atau karakter yang jahat. Paulus mendaftarkan hal-hal apa saja yang harus dibuang dari kehidupan jemaat Kolose; antara lain: marah, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut serta kata-kata dusta.
- Hal semua ini dilakukan dengan alasan bahwa jika seseorang sudah menjadi milik Kristus, haruslah terjadi perubahan total dalam kepribadiannya. Ia harus menanggalkan manusia lama, dan mengenakan manusia baru, yang terus menerus diperbaharui. Pembaharuan itu terlihat dampaknya, yaitu hancurnya tembok pemisah sehingga tidak ada lagi pembedaan antara suku bangsa Yahudi atau Yunani, yang bersunat atau yang tidak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka.
- Sebuah ilustrasi:
Pembeli tanah yang tamak (Leo Tolstoy)Seseorang berniat membeli sebidang tanah yang luas. Ia diantar oleh si empunya tanah. Dari atas puncak gunung ia melihat lembah-lembah dan bukit-bukit yang terbentang luas.“Berapa hektar tanah yang boleh saya beli?”“Berapa saja boleh, sekuat tenagamu”“Lho, kok sekuat tenaga?””Ya, kamu boleh membeli tanah seluas yang kamu bisa kelilingi. Kamu lari dari sini, kelilingi lembah dan bukit itu. Sebelum matahari terbenam, kamu harus sudah kembali lagi ke sini. Kalau kamu kuat mengelilingi 40 atau 50 hektar, tanah seluas itulah yang kamu dapatkan; bahkan secara gratis!”“Wow... 50 hektar! Itu sama dengan 500 ribu meter persegi! Tahun depan harganya bisa berkali-kali lipat!”Tanpa membuang waktu lagi, pembeli tanah itu mulai berlari. Naik, turun, naik lagi dan... terus berlari. Berjam-jam ia berlari; ia sudah sangat lelah, tetapi bayangan 50 hektar terus menghantuinya dan memaksanya untuk terus berlari. Ketika matahari terbenam, ia terhuyung-huyung tiba di tempat si empunya tanah. Dengan terengah-engah ia berkata, “Aku dapat! Aku dapat 50 hektar!” Tapi seketika itu juga ia roboh, nafasnya habis, ia mati; dan ia hanya menjadapat tanah seluas 2X1 meter, pas untuk mengubur jenazahnya.
- Pertanyaan bagi kita, “Apa yang saat ini kita inginkan bagi hidup kita?” Memiliki keinginan adalah sesuatu yang sangat manusiawi; tetapi keinginan apa yang menguasai diri kita saat ini? Ketika keinginan tersebut lebih mengarah pada keinginan duniawi, maka hal itu tidak akan pernah membawa orang pada kepuasan.
- Punya keinginan adalah wajar. Yang tidak wajar adalah bila keinginan itu begitu menguasai hidup kita; sehingga hidup kita hanya diarahkan pada pemenuhan keinginan saja. Hal ini bisa menimbulkan apa yang disebut Paulus sebagai sifat manusia lama. Dan itu hanya menjauhkan manusia dari kehidupan yang sesungguhnya.
- Keinginan yang terbaik adalah jika jemaat menyadari bahwa TUHAN-lah kehidupan mereka. Mereka harus mengandalkan Tuhan; sebab di saat kita tidak memiliki harta, DIA pasti datang menolong kita, karena DIA tidak akan pernah mebiarkan umat-Nya berjalan sendiri. TUHAN harus menjadi pusat utama dari keinginan hidup kita, sehingga kita dapat hidup dengan benar, menjadi manusia baru dan hidup dalam kebersamaan tanpa pembedaan satu sama lain.
Penulis : Pdt. Firman Pandjaitan, Mth

Tidak ada komentar:
Posting Komentar