“Markus” adalah seorang anak berumur 9 tahun dan hidup dalam keluarga sederhana, ayahnya hanyalah seorang buruh pabrik dan bila ada waktu luang sering memperbaiki alat-alat elektronik tetangganya yang rusak (seperti radio, televisi dsb) dengan upah secukupnya, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga yang suka menerima cucian dari tetangga sekitarnya yang cukup untuk menambah penghasilan keluarga, dan mereka tinggal disebuah rumah sederhana yang berjarak kurang lebih 25 km dari kota.
Suatu saat Markus mendengar dari teman bermainnya, bahwa dikota akan diadakan perlombaan mobil remote control. Markus bukannya ingin menonton perlombaan tersebut namun sebaliknya Markus justru sangat ingin manjadi peserta dalam perlombaan mobil remote control tesebut. Dengan memberanikan diri Markus mengatakan keinginannya kepada orang tuanya, dengan bijak ayahnya mengatakan “Markus…, kau kan tahu bahwa orang tuamu ini tidak mampu membelikan mobil remote control yang mahal itu, tapi kalau kau tetap mau ikut perlombaan itu, bagaimana kalau mobil remote controlnya kita buat bersama-sama?”, tanpa pikir panjang Markus setuju.
Hari-hari berikutnya mereka sibuk membuat mobil remote control dengan bahan-bahan seadanya, Markus dengan tekun membantu ayahnya walaupun hingga larut malam karena ayahnya hanya punya waktu luang setelah pulang kerja hingga akhirnya mobil remote control itu selesai.
Saat perlombaan akan dimulai Markus bingung dan rendah diri karena begitu banyak peserta yang mengikuti perlombaan tersebut dengan membawa mobil remote control yang canggih dan modern, sementara mobilnya hanya terbuat dari kayu-kayu bekas, namun ayahnya membesarkan hati Markus untuk tetap mengikuti perlombaan.
Sungguh luar biasa, mulai dari penyisihan sampai semifinal mobil Markus selalu unggul padahal sebagian besar penonton pesimis melihat kemampuan mobil remote control yang terbuat dari kayu bekas itu, hingga akhirnya mobil Markus masuk final.
Saat perlombaan final akan dimulai, tiba-tiba Markus minta waktu sesaat kepada wasit. Setelah konfirmasi dengan juri maka wasit memberi waktu hanya 5 menit, kemudian Markus pergi kesuatu tempat yang agak sunyi dan mulutnya komat-kamit. Sang wasit dan juri memperhatikan perilaku Markus dan mengatakan dalam hati “rupanya dia meminta waktu untuk berdoa”. Tidak sampai 2 menit Markus sudah kembali dan mengatakan siap untuk berlomba.
Perlombaan final mobil remote control berjalan dengan seru dan penuh ketegangan hingga akhirnya mobil Markus dinyatakan sebagai pemenang. Saat Markus sudah dipanggung dan siap menerima piala dan hadiah, juri bertanya :
“Markus kamu berdoa saat tadi meminta waktu?”,
“Iya Pak! jawab Markus
“Pasti kamu meminta untuk menang dalam perlombaan ini yah?” tanya juri lebih lanjut
“Tidak Pak!” jawab Markus
“Jadi apa yang kau ucapkan saat berdoa tadi?” Tanya juri penasaran.
Dengan lugunya seorang anak, Markus menjawab : saya hanya berdoa seperti ini “Tuhan Yesus, jangan biarkan saya menangis kalau saya kalah”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar