Rabu, 03 Agustus 2011

Praedestinasi

Dipilih untuk berbagi berkat

Bacaan: II Tesalonika 2:13-17



Pendahuluan:


Dalam tulisannya yang terkenal, Johannes Calvin (sang tokoh reformasi dunia) pernah mengungkapkan teorinya yang disebut dengan predestinasi (dari kata Prae = sebelumnya; dan destinare = menentukan) yang dapat diartikan sebagai pandangan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah atau masalah pemilihan Allah sejak semula. Apa yang telah ditetapkan Allah sejak semula? Menurut Calvin, yang ditetapkan oleh Allah sejak semula adalah umat yang percaya kepada-Nya dan sekaligus umat yang akan diselamatkan-Nya. Jadi korelasi antara umat Allah dengan Allah bukanlah masalah umat Allah yang telah memilih Allah sebagai Allahnya, tetapi justru Allah yang telah memilih dan menentukan umat-Nya sebagai umat pilihan-Nya. Tapi hal ini bukan berarti bahwa umat menjadi bagian yang pasif dalam relasi mereka dengan Allah, melainkan mereka tetap diharapkan bisa berperan aktif dalam menjaga aspek pemilihan Allah terhadap dirinya sebagai umat pilihan. Karena mereka sejak semula telah dipilih sebagai umat Allah, maka mereka bertanggung jawab untuk mempertahankan pemilihan ini dengan cara hidup sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Allah.

Tinjauan Teks:
Apa yang dikatakan Johannes Calvin di atas, senada dengan apa yang diungkapkan oleh Paulus dalam II Tes. 2:13-17 (agaknya Johannes Calvin terinspirasi untuk mengungkapkan teori praedestinasinya melalui ayat-ayat ini). Dalam bagian ini Paulus dengan tegas mengatakan bahwa Allah telah menetapkan jemaat Tesalonika menjadi orang-orang kudus yang akan mendapatkan keselamatan. Injil, sebagai kabar sukacita, telah memanggil jemaat untuk masuk dalam persekutuan dengan Yesus Kristus, oleh sebab itu setiap jemaat yang telah ditetapkan untuk terhisab ke dalam persekutuan dengan Yesus Kristus akan memperoleh keselamatan kekal. Hal inilah, menurut oleh Paulus, yang harus disyukuri oleh jemaat Tesalonika.
Karena jemaat telah ditetapkan sebagai bagian dari persekutuan Kristus yang diselamatkan, maka jemaat harus memiliki sikap yang teguh dalam menghadapi kehidupan. Keteguhan itu hanya bisa diperoleh jika jemaat sungguh-sungguh berpegang pada ajaran Kristus. Hal ini juga berarti bahwa jika jemaat melepaskan ajaran Kristus, maka mereka pun tidak akan mampu memiliki keteguhan dalam menghadapi kehidupan dan sekaligus mereka pun melepaskan keselamatan yang telah dikaruniakan Kristus kepada mereka. Dengan tegas Paulus berkata bahwa setiap ajaran (baik lisan maupun tulisan) yang telah diilhami oleh Kristus dan yang telah jemaat terima, harus dipegang secara kukuh dan sekaligus menjadi landasan jemaat bertindak dalam kehidupan kesehariannya.

Hal ini menandaskan bahwa antara pengajaran dan tindakan haruslah memiliki korelasi dan keseimbangan. Apa yang jemaat terima melalui ajaran lisan maupun tulisan tentang karya Kristus dan keselamatan, harus mewujudnyata dalam kehidupan keseharian jemaat. Harus ada tindakan nyata yang mewujudkan setiap ajaran yang diterima. Ajaran hanya akan tinggal menjadi ajaran yang tidak berguna jika tidak ada tindakan langsung dari ajaran tersebut. Tetapi sebuah ajaran akan menjadi berkat bagi kehidupan jika hal itu diterapkan dalam kehidupan. Oleh sebab itu, ajaran Kristus pun akan bisa tetap hidup jika diterapkan dalam kehidupan; di sisi lain ajaran Kristus tidak akan menjadi berkat dan sekaligus tidak berguna bagi kehidupan jika ajaran itu tidak pernah menyentuh sisi praksis kehidupan.

Jika segala sesuatu sudah dilakukan dan dihayati dengan benar, maka hal inilah yang harus disyukuri. Jadi ungkapan syukur bukan sekadar ucapan terima kasih karena sudah menerima ajaran yang indah dari dan tentang Kristus; melainkan ucapan syukur itu harus terjadi bila ajaran Kristus itu sudah dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata. Apalah artinya sebuah ajaran indah jika hal itu tidak mewujud dalam kehidupan? Apalah artinya keberadaan Kristus, jika keberadaan Kristus itu hanya menjadi bagian dari kehidupan seseorang atau sekelompok orang tanpa harus dibagikan dan dinikmati oleh seluruh umat manusia yang hidup? Kalau hanya untuk sekelompok orang saja, mengapa ajaran Kristus yang indah itu harus disyukuri? Kalau Kristus tidak hidup bagi seluruh dunia; untuk apa ucapan syukur itu dinaikkan?

Dengan demikian jelaslah sudah bahwa penetapan jemaat untuk menjadi orang kudus dan orang yang diselamatkan memiliki tujuan agar mereka mau menerapkan segala apa yang mereka terima dari Tuhan yang mengasihi mereka dalam kehidupan keseharian mereka; terkhusus dalam kehidupan mereka bersama dengan orang lain. Melalui hal ini, maka mereka pun sudah berbagi kasih dan keselamatan bagi kehidupan yang dijalani.

Relevansi:
Jika kepada jemaat di Tesalonika Tuhan sudah menetapkan keselamatan dan kekudusan hidup, maka hal yang sama pun berlaku untuk kita, jemaat Tuhan, yang hidup di saat sekarang ini. Tetapi perlu kita ingat bahwa penetapan ini bukan sekadar untuk kita nikmati sendiri, melainkan harus mau kita bagikan kepada orang lain dengan penuh suka cita. Keselamatan dari Tuhan harus menjadi milik semua orang di dunia; untuk itulah Tuhan telah menetapkan kita (predestinasi) menjadi orang-orang yang diselamatkan dan dikuduskan dalam rangka menyelamatkan dan menguduskan dunia.

Hal inilah yang harus menjadi semangat kita dalam kehidupan. Dalam ajaran di atas, kita diingatkan bahwa Tuhan telah menetapkan kita menjadi umat pilihan-Nya, dan hal itu berkonsekuensi bahwa kita harus menjadi pembawa dan pembagi kabar sukacita dan kabar keselamatan bagi seluruh kehidupan. Biarlah kita semakin mempersiapkan diri untuk memasuki kehidupan dalam kekudusan, sehingga kita selalu memiliki semangat untuk berbagi keselamatan bagi semua orang dan kehidupan ini.

Penulis : Pdt. Firman Pandjaitan, Mth

Tidak ada komentar:

Posting Komentar