Saat kami melayani penghuni salah satu LP (Lembaga Permasyarakatan) di Semarang, saya terkesan dengan sebuah pernyataan dari seorang narapidana yang mengikuti kebaktian tersebut. Kebaktian dibuka oleh seorang napi dengan pernyataan “saya masuk penjara karena terkena penyakit rabun”.
Penyakit rabun ada 2 (dua) jenis yaitu rabun dekat dan rabun jauh. Jika dibandingkan dengan yang normal, maka rabun dekat berarti kurang memiliki kemampuan untuk melihat obyek yang relatif sangat dekat, sebaliknya rabun jauh berarti kurang memiliki kemampuan untuk melihat obyek yang relatif cukup jauh. Secara medis agar optik di mata kembali bisa terfokus, biasanya disarankan menggunakan lensa optik atau sering disebut kacamata. Bila kurang mampu melihat obyek yang relatif jauh maka harus menggunakan kacamata minus dan bila sebaliknya harus menggunakan kacamata plus.
Mengapa sang napi bisa masuk penjara karena menderita penyakit rabun?.....
Penyakit rabun yang diderita oleh sang napi bukan terletak pada mata phisiknya, tetapi pada mata hati/ bathinnya. Akibat penyakit rabun itulah hidupnya tidak pernah merasa nyaman dan tentram, sehingga sang napi melakukan tindakan yang tidak sesuai dengar norma-norma hukum (norma hukum jasmani dan rohani) yang berlaku.
Rabun Dekat
Bila mata hati/ bathin menderita rabun dekat, maka seseorang kurang memiliki kemampuan untuk melihat dan merasakan berkat dan kasih Kristus Tuhan yang melimpah atas dirinya sendiri dan cenderung kurang berterima kasih dan mensyukuri atas apa yang telah diperolehnya. Dia cenderung hanya melihat keberhasilan dan kesuksesan orang lain yang disadari atau tidak akan menimbulkan rasa iri, iri karena ingin memiliki semua yang dimiliki orang lain (barang, posisi, jabatan dll).
Rasa tidak puas senantiasa menghantui hidupnya, dan untuk memenuhi rasa tidak puas maka segala macam cara digunakan walaupun dengan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan norma-norma hukum yang berlaku (mencuri, jambret, merampok, membunuh, korupsi dan sebagainya).
Rabun Jauh
Sebaliknya penderita rabun jauh (mata hati/ bathin) kurang memiliki kemampuan menghargai orang lain dan hanya mengandalkan kemampuannya sendiri (kemampuan manusiawi). Ke-aku-an diri sering membuat diri seseorang menjadi egois, mau menang sendiri, menyepelekan orang lain, tidak membutuhkan orang lain, pendapatnya harus didengar dan selalu benar sementara pendapat orang lain dianggap tidak benar dan sebagainya.
Rasa tidak puas juga dirasa oleh penderita rabun jauh, pekerjaan orang lain baginya tidak pernah baik, hanya dia yang mampu melakukan pekerjaan dengan baik. Segala materi yang dimiliki dipergunakan semaunya sendiri (positif atau negatif) sebab segala nasehat orang tidak akan diterima atau digubris.
-------
Ada baiknya kita bercermin dari pernyataan tersebut dan introspeksi diri sendiri “apakah diri kita menderita penyakit rabun (dekat atau jauh atau keduanya)?”. Bila secara medis ada media untuk memfokuskan optik yang ada di mata phisik yaitu berupa kacamata, maka secara rohani media untuk memfokuskan optik mata hati/ bathin adalah firman-firman yang tertulis dalam kitab suci.
Tuhan telah memampukan sang napi untuk melihat dan menyadari akan penyakitnya, dan saya bersyukur melalui sang napi terjadi pencerahan dalam diri mengenai salah satu penyakit rohani yang harus dihindari dan obat penyembuhnya. Sungguh Kristus luar biasa, dasyat dan ajaib, melalui siapapun dan apapun bisa dijadikanNya sebagai media untuk pemberitaan jalan keselamatan yang dijanjikanNya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar