Senin, 29 Agustus 2011

Misi Dalam Perspektif Kristologis


Sebagai iman yang memiliki visi dengan penekanan pada pelayanan pendamaian sebagai wujud nyata dalam menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia, maka iman Kristen harus dapat menjabarkan visinya tersebut dalam sebuah gerak misi yang dapat mewakili segala keberadaan visi tersebut. Meminjam pemahaman bahwa teologi hanya dapat dikatakan sebagai bentuk teologi apabila ia sungguh-sungguh berada dalam konteks setempat (kontekstual), karena pada hakikatnya teologi adalah upaya dialektis, kreatif dan eksistensial antara “teks” dengan konteks setempat atau antara “kerygma” yang universal dengan kenyataan hidup yang kontekstual; maka saya pun berpendapat bahwa misi yang harus dijalankan adalah misi yang selalu bersapaan dengan budaya/kultur dan struktur sosial dalam konteks setempat dengan didasarkan atas visi yang melatarbelakangi tumbuhnya gerak misi tersebut. Hal ini mengimplikasikan bahwa setiap kegiatan misi harus mampu untuk menyapa dan hidup berdampingan dengan budaya setempat.

Mengaca pada pandangan iman yang Kristologis, maka misi pun harus memiliki perspektif Kristologis, maksudnya: kegiatan misi hanya dapat berlangsung apabila ditempatkan dalam kerangka praksis pelayanan yang bersifat mengundang setiap orang untuk ikut ambil bagian dalam Kerajaan Allah melalui bentuk pelayanan pendamaian bagi dunia. 
Hidup berdampingan dengan buday kt{qjx4) kan berarti kegiatan misi harus berubah menjadi sebuah tindakan yang bersifat sinkretistik (terlebur ke dalam budaya sehingga identitas yang ada menjadi kabur dan tidak jelas), melainkan ia harus mampu masuk ke dalam budaya dengan tetap mempertahankan identitasnya. Dengan kata lain, bentuk kegiatan misi yang kontekstual adalah kegiatan yang mampu menyapa dan memperkenalkan dirinya (aktivitas misi) kepada setiap budaya setempat tanpa ada unsur untuk mengubah budaya, melainkan tetap menghargai unsur budaya yang ada. Oleh sebab itu, bentuk kegiatan misi ini lebih tepat dikatakan sebagai UNDANGAN bagi kebudayaan untuk hadir dan ikut terlibat dalam perjamuan illahi. Dengan demikian misi yang kontekstual merupakan upaya pemberitaan khabar baik kepada segenap lapisan budaya, dimana pemberitaan khabar baik yang dilakukan bukan hanya dilakukan secara verbal dan praktis saja, melainkan sudah diwujudkan melalui praksis kehidupan sehari-hari.

Untuk mengerti pemahaman di atas, saya mengajak untuk memperhatikan sebuah perikop yang seringkali disalahartikan oleh banyak pembaca Alkitab, perikop tersebut terdapat dalam Mat. 28 : 18-20. Menurut penulis, perikop ini bukanlah perikop yang hendak menekankan kegiatan yang memaksakan orang lain masuk ke dalam lingkungan agama Kristen, melainkan memiliki penekanan yang sama sekali berbeda dengan apa yang selama ini dipahami oleh gereja-gereja tertentu. Saya melihat bahwa penekanan kata PERGILAH tidak boleh terpisah dari kalimat sesudahnya. Kata PERGILAH bukan merupakan perintah untuk pergi dengan mengemban misi (mengandung tujuan untuk) : pemuridan, pembaptisan, dan pengajaran. Tetapi kata PERGILAH di sini harus dipahami sebagai kalimat imperatif dari sebuah kegiatan misi dengan ditambah dengan kata-kata sesudahnya. Jadi rumusannya adalah:


Dengan melihat bagan di atas, saya memiliki anggapan bahwa menjalankan misi dalam perspektif Kristologis adalah menghadirkan setiap bentuk keselamatan secara holistik (tidak berat sebelah: bukan hanya keselamatan secara rohaniah atau jasmaniah saja, melainkan keselamatan yang mencakup seluruh keberadaan hidup). Dimulai dari perintah agar para murid tidak diam, melainkan pergi untuk menyucikan dan mengajarkan ajaran keselamatan kepada setiap orang di dunia (tanpa ada pembedaan). Pengajaran yang diberikan adalah mengenai ajaran kebahagiaan berupa penglepasan manusia dari belenggu dosa ditambah dengan ajaran-ajaran praksis mengenai kasih kepada Allah yang harus terwujud secara nyata melalui kasih kepada sesama (bdk. 1 Yoh. 4 : 20) dan sekaligus memperhatikan aspek sosial, dimana pelayanan pendamaian bagi dunia bukanlah pelayanan yang hanya bersifat rohaniah belaka melainkan juga meliputi aspek jasmaniah. Dengan pekhabaran berita bahagia ini, diharapkan segenap manusia dapat memperoleh keselamatan secara holistik. Mengapa keselamatan holistik yang menjadi penekanan utamanya? Hal ini tidak lain karena setiap pelayanan yang diberikan oleh Yesus Kristus adalah pelayanan yang menekankan pada keselamatan secara utuh. Yesus Kristus bukanlah manusia yang menekankan satu sisi dan mengabaikan sisi yang lain; Ia adalah manusia yang seimbang dan selalu menempatkan keseimbangan jiwa – tubuh dalam porsi yang sejajar. Sehingga keselamatan dalam Kerajaan Allah yang ditawarkan oleh Yesus Kristus adalah keselamatan yang menyeluruh, bukan parsial !

Misi dalam perspektif Kristologis adalah misi yang didasarkan atas visi yang bertujuan untuk melantunkan pelayanan pendamaian bagi dunia dimana hal ini merupakan pewujudnyataan dari upaya untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah melalui pelayanan yang holistik dengan sebuah penekanan agar out-come (kualitas yang dihasilkan dari sebuah tujuan) dapat dinikmati oleh setiap orang yang bersentuhan dengan misi itu sendiri, yaitu keselamatan yang holistik. Di sisi lain, misi dalam perspektif Kristologis adalah misi yang mau menyentuh akar budaya dan menempatkan budaya sebagai “partner” bagi pengembangan misi tersebut. Hal ini didasarkan atas pemahaman mengenai kegiatan Yesus Kristus yang seringkali memakai akar budaya dalam menjalankan setiap aktivitas pelayananNya (lihat segala perangkat yang dipakai oleh Yesus yang mengikuti budaya setempat, perumpamaan-perumpamaan Yesus pun seringkali mengacu pada budaya setempat, bahkan Ia bertingkah laku dengan mengikuti budaya setempat, …).

Pada akhirnya, misi dengan perspektif Kristologis merupakan upaya untuk mengungkap pelayanan pendamaian yang didasarkan pada aspek kebenaran yang benar-benar BENAR melalui sudut pandang Kristus. Dalam pengertian bahwa misi dengan perspektif Kristologis merupakan wujud nyata dari upaya untuk melakukan misi penyelamatan dunia melalui kegiatan pelayanan yang berorientasi pada kesejahteraan bagi semua orang (tanpa upaya pembedaan dalam sasaran pelayanan). Dengan melalui kegiatan pelayanan bagi pendamaian dunia yang didasarkan atas empati bagi terhadap penderitaan dunia, maka misi yang memiliki perspektif Kristologis ini hendak mengembangkan pelayanan yang mampu menyentuh semua lini kehidupan (baik di kalangan grass-root atau pun di kalangan elitis) dan kemudian mengundangnya untuk masuk ke dalam pesta keselamatan illahi. Dengan demikian setiap orang Kristen pun (termasuk gereja di dalamnya) harus menjadi piranti misi dalam mengundang setiap orang untuk berkenan masuk ke dalam pesta perjamuan Anak Domba Allah.

Penulis : Pdt. Firman Pandjaitan, Mth

Tidak ada komentar:

Posting Komentar