Selasa, 22 Februari 2011

Kasih Yang Terintegrasi

Markus 12:28-34 & I Yohanes 4:19-21

Pendahuluan

  • Sesungguhnya apa yang menjadi ajaran inti dari Tuhan Yesus Kristus?
  • KASIH?! -> Benar!
    Tetapi KASIH yang bagaimana?
  • Apakah ajaran tentang KASIH dari Tuhan Yesus Kristus itu sama dengan ajaran KASIH dari yang lain (menurut aturan dan hukum Yudaisme pada saat itu)? Atau ada kekhususan ajaran tentang KASIH dari Tuhan Yesus Kristus?
  • Terutama ketika ajaran KASIH itu hendak direlevansikan pada masa sekarang; apakah ajaran itu masih dapat dipertahankan atau hanya merupakan sebuah ajaran yang berada di awang-awang dan sama sekali tidak mendarat di permukaan bumi dan kehidupan ini? -> Bukankah hal ini yang sering terjadi dalam kehidupan beragama masa kini...


Penjelasan Teks

  • Ayat 28: Perlu dicatat di sini bahwa orang Saduki dan Ahli Taurat adalah 2 kelompok yang membenci Yesus, tetapi keduanya pun saling bersaing satu sama lain. Jadi, jika dalam ayat ini dikatakan bahwa Ahli Taurat bertanya kepada Yesus setelah Yesus berhasil menjawab semua pertanyaan orang Saduki, maka pertanyaan itu tidak diajukan dalam rangka membela orang Saduki melainkan memang ingin menjatuhkan Yesus.
  • Perbedaan dan persaingan orang Saduki dengan Ahli Taurat itu lebih ke arah masalah pemahaman teologis. Orang Saduki (yang terdiri dari para Imam) menolak setiap ajaran di luar Taurat, misalnya kebangkitan orang mati, pembalasan dalam kehidupan akhirat dan adanya malaikat; sedangkan ahli Taurat percaya terhadap hal itu semua. Dan dalam masalah hukum Taurat sendiri, para ahli Taurat mengembangkan hukum Taurat menjadi berbagai macam aturan yang kemudian dibukukan dalam kitab baru yang disebut MISHNAH (hrf.: PENGAJARAN); sedangkan orang Saduki sangat tidak percaya terhadap ajaran yang ditulis di dalam MISHNAH tersebut.
  • Namun dalam ayat ini, justru ahli Taurat yang bertanya tentang ringkasan hukum Taurat. Apa maksudnya? Maksudnya adalah mereka ingin tahu, sebenarnya posisi Yesus ada di mana; apakah condong ke arah pemahaman orang Saduki atau ke arah pemahaman para ahli Taurat -> Jadi di sini Yesus mau dijebak dan sekaligus dipermainkan...
  • Ayat 29: Kalimat awal dalam ayat ini adalah kutipan dari Ul. 6:29, yang biasa disebut dengan SYEMA (DENGARKANLAH). Ungkapan awal ini sesungguhnya merupakan konfessi dasar (Pengakuan Iman) dari Yudaisme; yaitu tentang Ketunggalan Allah yang menjadi dasar monotheisme Yahudi. Tidaklah heran kalau ungkapan SYEMA ini selalu menjadi ungkapan awal dari setiap peribadatan orang Yahudi.
  • Ayat 30-31: Kedua bunyi hukum ini masing-masing merupakan kutipan dari Ul. 6:30 dan Im. 19:18. Kedua hukum ini digabungkan oleh Yesus (untuk pertama kali) guna menjelaskan apa sesungguhnya inti dari hukum Taurat.
  • Pertama Yesus menerangkan bahwa hukum yang terutama adalah KASIHILAH TUHAN, ALLAHMU ... Kata yang digunakan untuk menunjuk pada kata KASIH adalah AGAPHE (sebuah kata tentang kasih yang sempurna). Karena Kasih yang dipakai adalah Agaphe, maka kasih itu harus diberikan secara total dan bukan setengah-setengah. Itulah sebabnya Yesus menekankan bahwa mengasihi Allah harus dilakukan dengan segenap hati (kardia = aspek spiritual), segenap jiwa (psikhe = aspek emosional), dan segenap pikiran dan kekuatan (dianoias dan iskhuos = aspek intelektual) -> Semua meliputi 3 kecerdasan utama: IQ, EQ dan SQ.
  • Jadi mengasihi Allah harus tercermin dari sikap bathin yang mewujud dalam sikap hidup keseharian (melalui pikiran, tutur kata serta tindakan-tindakan fisik).
  • Tetapi itu belum lengkap; karena jika mau lengkap dalam mengasihi Allah, maka harus dilengkapi dengan cara mengasihi manusia (sesama)...
  • Dikatakan bahwa hukum yang kedua adalah KASIH terhadap sesama. Adalah menarik bahwa istilah KASIH terhadap sesama digunakan kata AGAPHE. Hal ini berarti bahwa kualitas kasih yang harus diberikan kepada sesama harus SAMA dengan kualitas kasih kepada Allah; tidak setengah-setengah melainkan totalitas!
  • Dengan kata lain, Kasih terhadap Allah itu harus terintegrasi secara sempurna dalam wujud kasih terhadap sesama. Tidaklah mungkin seseorang dapat mengakui bahwa ia mengasihi Tuhan tetapi di sisi lain ia menjadi pembenci bagi sesamanya -> Bandingkan dengan ungkapan I Yoh. 4:20; bagaimana mungkin seseorang dapat mengasihi Allah yang tidak dilihatnya, jikalau dia sendiri tidak dapat mengasihi manusia yang dilihatnya...
  • Jadi, sesungguhnya ayat-ayat ini hendak menandaskan bahwa yang dimaksud dengan KASIH oleh Tuhan Yesus, bukanlah KASIH yang biasa (ordinary) melainkan kasih yang luar biasa (extra-ordinary); yaitu pengintegrasian kasih kepada Allah di dalam kasih kepada sesama manusia.
  • Secara khusus lagi yang dimaksud extra-ordinary kasih di sini adalah mengenai kasih kepada sesama yang membenci kita (bdk. Luk. 6:27-30) รจ yang merupakan ajaran Yesus Kristus SATU-SATUNYA tentang KASIH, yang tidak dimiliki oleh ajaran agama atau pun ajaran filsafat lainnya.
  • Jelaslah bahwa ajaran KASIH yang ditebarkan oleh Yesus berbeda dengan ajaran kasih secara umum -> di sini jelas bahwa posisi Yesus tidak memihak pada salah satu dari kedua kelompok di atas...
  • Mengapa Yesus menempatkan kedua hukum ini sebagai hukum yang terutama? -> Sebenarnya Yesus hendak memberikan makna yang baru bagi pelaksanaan setiap aturan keagamaan. Kalau selama ini orang sibuk dengan pelegalistikan dan pelaksanaan aturan/hukum agama dengan ketat sehingga menafikan nilai-nilai kemanusiaan; maka melalui ungkapan hukum yang terutama ini Yesus hendak menunjukkan bahwa hal mengasihi dan menghargai kehidupan serta sesama adalah lebih penting/utama katimbang pelaksanaan hukum yang mengabaikan sesama. Kasih adalah landasan bagi pelaksanaan setiap hukum yang ada; jika seseorang memiliki kasih, ia akan menjalankan setiap aturan hukum dengan suka cita.
  • Dengan kata lain: jika setiap orang mempunyai kasih yang sejati (totalitas), maka tidak diperlukan lagi satu hukum apa pun di dunia ini. Mengapa? Karena orang yang penuh kasih tidak akan mungkin melakukan sesuatu yang menyakiti sesamanya, apalagi menyakiti hati Tuhan.
  • Ayat 32-34: Merupakan tanggapan dari ahli Taurat. Sekilas tampak bahwa orang ini menyetujui apa yang disampaikan oleh Yesus; akan tetapi dengan melihat ayat 34, sesungguhnya Yesus paham bahwa mereka hanya mengerti dalam batasan pemahaman saja (teoretis) tetapi tidak mengerti dalam batasan praxis (mempraktekkan apa yang diteorikan) -> artinya mereka hanya mampu mengerti dalam penghapalan terhadap hukum, tetapi belum mampu menangkap makna yang terkandung dalam jawaban Yesus tersebut. Bagi mereka prinsip kasih yang ditawarkan oleh Yesus hanya dipandang sebagai “salah satu hukum” yang harus dijalankan, bukan sebagai landasan hidup beriman.
  • Itu sebabnya dalam ayat 34 Yesus mengatakan bahwa mereka “tidak jauh dari Kerajaan Allah” -> artinya: mereka memang sudah dekat dengan Kerajaan Allah, tetapi belum menjadi bagian dari Kerajaan Allah -> Bahkan dalam Terjemahan BIS dikatakan: "Engkau sudah hampir menjadi anggota umat Allah.“
  • Orang seperti para ahli Taurat dan Saduki belum bisa menerima anugerah keselamatan dari Allah, karena mereka masih terikat oleh kelegalitikan hukum. Mereka masih memahami bahwa ketaatan pada pelaksanaan hukum agamalah yang akan membawa mereka pada keselamatan -> padahal ini sama sekali tidak dapat dibenarkan.
  • Melalui pengajaran tentang hukum yang terutama ini, Yesus hendak mengajak setiap orang untuk selangkah lebih maju dalam upaya menggapai Kerajaan Allah yang telah ditawarkan oleh Allah kepada manusia...
  • Pada akhirnya, selamat mengasihi dengan seluruh jiwa – raga. Tuhan memberkati kita. 

Penulis : Firman Pandjaitan, MTh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar