Selasa, 22 Februari 2011

Persiapan Advent

MEMPERSIAPKAN KEDATANGAN YESUS YANG KE-2
Perikop: I Petrus 4:7-11

Pendahuluan
Kedatangan Tuhan (Adven) sudah dekat; oleh sebab itu kita harus mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan tersebut. Tetapi sebelum bersiap diri, sebenarnya kita harus tahu terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kedatangan Tuhan/Adven tersebut. Karena seringkali kita hanya mengaitkan Adven dengan masalah Natal saja, padahal bukan sekadar itu yang dimaksud dengan Adventus/persiapan kedatangan Tuhan.

Ada 3 pengertian tentang masa kedatangan Tuhan/Adven, yaitu:
  1. Masa 4 minggu sebelum Natal yang oleh orang Kristen tertentu diingat sebagai masa puasa dan doa (jadi jika mau berpuasa, berpuasalah pada saat masa Adven; dimana puasa yang dimaksud di sini adalah puasa untuk menyucikan diri dari segala dosa yang telah diperbuat selama ini);
  2. Kedatangan Kristus pada saat IA menjadi manusia (yaitu masa 2000 tahun yang lalu, ketika Yesus lahir ke dalam dunia);
  3. Kedatangan Kristus untuk kedua kalinya.

Karena Adven memiliki 3 pengertian di atas, maka kita tidak dapat memisahkan ketiga pengertian itu dalam pengertiannya sendiri-sendiri, karena ketiganya saling berhubungan.

Untuk Adven yang akan kita peringati mulai pada tanggal 28 November mendatang, penekanannya bukanlah sekadar menyambut Natal melainkan juga hendak mempersiapkan kita untuk hidup kudus/suci melalui sikap puasa bathin dalam rangka menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Oleh sebab itu kita perlu belajar dari kitab I Petrus 4:7-11.

Pesan I Petrus 4:7-11
Dalam bagian ini Petrus hendak menegaskan bahwa “kesudahan segala sesuatu sudah dekat”. Apa yang dimaksud dengan kalimat ini? Kalimat ini sebenarnya mau mengatakan bahwa masa-masa kedatangan Tuhan yang kedua kali sudah dekat; yaitu masa di mana Allah akan menyatakan kemuliaan-Nya. Tetapi perlu diingat bahwa Petrus tidak berbicara tentang kiamat (kehancuran bumi); melainkan ia berbicara tentang hari Tuhan, hari di mana Tuhan akan berkuasa, sudah dekat. Tuhan akan menyatakan diri-Nya secara sempurna melalui kedatangan-Nya yang kedua. Oleh sebab itu, menurut Petrus, dalam menghadapi hari yang mulia tersebut manusia harus mempersiapkan diri.

Apa yang harus dipersiapkan dan bagaimana caranya? Petrus mengatakan bahwa kedatangan Tuhan Yesus yang kedua adalah kedatangan yang menuntut adanya penyucian bathin dan hidup manusia. Sebab itu manusia diminta untuk semakin menguasai dirinya (bahasa Yunani: Engkrateia, yang berarti selalu mengenal dirinya sendiri dan dapat mengendalikan dirinya sendiri. Engkrateia juga menggambarkan sikap yang terkendali, di mana manusia tidak lagi dikuasai oleh nafsu dan selalu bisa berdamai dengan dirinya). Di samping itu hendaknya manusia juga selalu menjaga dirinya dengan doa-doa kepada Tuhan. Apa maksud dan tujuan doa tersebut? Maksud dan tujuan doa itu adalah agar manusia bisa menjaga kesucian dirinya dan selalu hidup kudus di hadapan Tuhan dan sesamanya. Dengan berdoa, manusia dapat mengendalikan diri dengan cara hanya berserah kepada Tuhan dan selalu berharap pada kehendak Tuhan saja. Doa harus disadarkan setiap saat, agar manusia tidak pernah jauh dari Tuhan. Karena ketika manusia jauh dari Tuhan, ia tidak akan pernah siap untuk menghadapi hari Tuhan yang semakin dekat ini.

Namun di atas semua itu, menurut Petrus, manusia harus bisa menjaga kekudusan mereka dengan cara mengasihi sesamanya. Di sini Petrus menekankan bahwa kekudusan manusia hanya dapat terlihat melalui cara manusia mengasihi sesamanya. Ketika manusia tidak bisa mengasihi sesamanya, maka sesungguhnya ia tidak akan pernah bisa hidup kudus dan benar di hadapan Tuhan dan sesamanya. Sebab itu, manusia harus bisa mencintai dan menerima sesamanya tanpa diiringi dengan kepentingan-kepentingan pribadi. Hal ini tampak dari perintah Petrus yang mengatakan bahwa manusia harus bisa menerima sesamanya (disimbolkan dengan kata: memberikan tumpangan) tanpa bersungut-sungut (tanpa terpaksa). Ini berarti penerimaan terhadap sesama harus didasari dengan ketulusan tanpa ada kepentingan apa pun di balik itu semua. Jika ketulusan itu mampu mewarnai kehidupan yang dijalani manusia, maka manusia akan bisa hidup dalam kekudusannya.

Selanjutnya Petrus mengingatkan bahwa dengan berbekalkan ketulusan, manusia yang sudah bisa menjaga kekudusan dan sudah bisa menerima diri sendiri dan menerima sesama, diminta untuk melayani kehidupan berdasarkan talenta yang dimilikinya. Tidak ada manusia tanpa talenta! Manusia hidup dan selalu dibekali dengan talenta oleh Tuhan; oleh sebab itu sebagai manusia yang bertanggung jawab maka semua yang dimiliki dalam dirinya haruslah dipersembahkan kepada Tuhan melalui pelayannya kepada sesama. Tanpa pelayanan dengan didasarkan talentanya, manusia hanyalah makhluk yang tidak mengenal Tuhannya; atau bahkan bisa disebut sebagai manusia yang tidak Bertuhan!

Adven tahun ini mengajak kita untuk semakin bersiap menghadapi hari Tuhan; hari kedatangan Tuhan yang kedua kalinya. Oleh sebab itu hendaknhya kita bisa menjaga kekudusan hati dan hidup kita dengan selalu berdoa, menerima dan berdamai dengan diri sendiri dan sesama dan selalu memiliki semangat untuk melayani kehidupan. Hidup kudus adalah syarat mutlak dalam kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali. Sebab itu marilah kita menjaga kekudusan hidup.

Penulis : Firman Pandjaitan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar