Seorang pemuda jatuh hati pada seorang pemudi dan si pemudi mempunyai perasaan yang sama, akhirnya merekapun berpacaran. Selama berpacaran mereka lalui dengan begitu indah dan bahagia, dan pertengkaran-pertengkaran kecil dapat dengan cepat dan mudah diselesaikan sekalipun pasangan ini menyadari bahwa banyak perbedaan diantara mereka, diantaranya sifat, kebiasaan, kegemaran, status sosial dan lain-lain.
Rasa saling mencintai dan memiliki membuat pasangan ini bersepakat bahwa perbedaan itu dapat dihilangkan dan dieliminir dengan melakukan pengorbanan untuk saling memahami, menghargai dan menghormati satu sama lain.
Kedua orang tua baik si pemuda maupun si pemudi sebenarnya tidak menyetujui hubungan mereka, namun karena melihat keteguhan dan keseriusan pasangan ini maka akhirnya restu dari orang tua pun diperoleh, hingga akhirnya mereka melangkah kejenjang pernikahan.
Masa bulan madu membuat mereka semakin bahagia, pasangan ini yakin tidak ada yang dapat memisahkan mereka untuk terus bersatu dalam membina rumah tangga yang harmonis. Kehadiran seorang anak makin melengkapi kebahagiaan dan menjadikan pasangan ini sebagai keluarga yang lengkap.
Beberapa tahun kemudian mulai terjadi pertengkaran-pertengkaran kecil yang sulit diselesaikan, seperti :
- Cara mendidik anak- Sifat, kebiasaan, kegemaran, status sosial dll yang berbeda
- Tingkat intelegent anak (siapa yang dominan)
- dll
akibatnya menjadi pertengkaran besar dimana keduanya mulai mengungkit perbedaan-perbedaan diantara mereka dan tidak ada yang mau mengalah, sekalipun satu sama lain ingin kembali mencoba saling memahami, menghargai dan menghormati, namun tidak berhasil. Dan kesimpulannya mereka sudah tidak cocok lagi.....
********** Masa berpacaran memang adalah saat yang paling indah dan bahagia, rasanya ingin selalu bertemu untuk memadu kasih, tidak ada yang tidak dapat diselesaikan, semua dapat diselesaikan dengan mudah dan tidak ada kata perbedaan, semua sama dan merasa selalu cocok satu sama lain.
Saat berpacaran biasanya kejelekan atau sifat negatif tiap individu disembunyikan dan yang diperlihatkan sebagian besar dari sisi positif, seperti :
- rela berkorban; naik motor menjemput sang kekasih walaupun hujan deras
- rela mengalah; memberikan makanan kesukaannya bagi sang kekasih
- rela memprioritaskan sang kekasih; mengutamakan sang kekasih diatas segalanya
- rela diperintah; mengambil barang sang kekasih yang tertinggal disuatu tempat
- dan rela-rela lainnya
agar tetap terlihat indah dan baik serta membuat sang kekasih merasa aman dan bahagia bila selalu bersamanya.
Langkah-langkah ini bila ditelaah dengan cermat dan baik merupakan langkah “menciptakan citra diri yang positif” agar terlihat indah, baik dan menyenangkan dimata sang kekasih. Untuk dapat “menciptakan citra diri yang positif” perlu ada suatu proses pengorbanan yaitu “melawan apa yang diinginkan diri sendiri” yang bisa terjadi untuk kurun waktu tertentu tergantung kemampuan individu mempertahankannya. Saat berpacaran proses “menciptakan citra diri yang positif” biasanya dilakukan oleh kedua belah pihak, sehingga bila terjadi pertengkaran, maka keduanya dapat melihat dan memahami permasalahan dari sudut pandang diri sendiri dan sudut pandang pasangannya, sehingga semua bisa berjalan dengan baik dan lancar dan berakhir dengan cepat selesainya pertengkaran.
Pernikahan akan membuat pasangan itu untuk tetap mempertahankan "menciptakan diri yang positif" agar zona bahagia bisa dinikmati bersama dengan memiliki impian-impian dan harapan indah kemasa mendatang. Salah satu harapannya adalah mempunyai keturunan yang akan melengkapi kebahagiaan dalam berumah tangga. Selama masih ada harapan yang diimpikan/ diinginkan masih terbuka lebar, maka “menciptakan citra diri yang positif” cenderung tetap bertahan.
Setelah semuanya terpenuhi, maka proses “menciptakan citra diri yang positif” perlahan-lahan semakin memudar/ berkurang dan sifat-sifat negatif yang selama ini terpendam dalam “menciptakan citra diri yang positif” mulai memberontak keluar seperti monster yang sudah lama terkubur bangkit kembali.
Pola pandang perlahan-lahan akan berubah, satu sama lain mulai mempunyai tuntutan terhadap pasangan hidupnya, seperti;
Sebagai seorang laki-laki, seorang suami dan kepala keluarga menuntut sang isteri dan anak-anak harus menghargai, menghormati dan harus mendengar dan mematuhi semua perkataan dan keputusan yang diambilnya.
Sebagai seorang perempuan dan isteri menuntut untuk dihargai pengorbanannya dalam menyelesaikan segala pekerjaan rumah tangga, mengasuh anak dan mendapat perlindungan dari sang suami.
Akibat dari tuntutan-tuntutan itu, maka saat terjadi pertengkaran keduanya hanya mampu melihat permasalahan dari sudut pandang dirinya sendiri dan mengabaikan sudut pandang pasangannya. Semua ini bisa terjadi karena keduanya tidak mau dan tidak mampu lagi mempertahankan “menciptakan citra diri yang positif”, sehingga pertengkaran kecil bisa menjadi besar dan fatalnya bisa mengakibatkan perceraian dengan alasan sudah tidak cocok lagi.
Pemahaman tidak cocok lagi sama saja mengenyampingkan fakta bahwa semua manusia tidak ada yang benar-benar cocok satu sama lain, terbukti dengan tidak ada manusia yang tidak pernah bertengkar atau berdebat dalam menyelesaikan permasalahan yang dialaminya. Bila seseorang menganggap dirinya cocok dengan sahabatnya karena orang itu sendiri bisa “menciptakan kecocokan”, sehingga tanpa disadari orang itu rela melakukan suatu pengorbanan agar tetap merasa cocok dengan sahabatnya.
Menciptakan citra diri, kecocokan, kesamaan dan sebagainya akan sirna bila sudah timbul “tuntutan-tuntutan” dari salah seorang terhadap pasangannya. Tututan itu bisa timbul karena, al:
- Keinginan-keinginan yang tidak terkendali,- Membanding-bandingkan dengan orang lain,
- Keangkuhan diri/ egois,
- Merasa dibutuhkan, berjasa dan paling hebat,
- dsb
semuanya itu membuat seseorang tidak lagi mampu melihat sisi positif pasangannya atau orang lain, dia hanya mampu melihat sisi negatif atau kekurangan-kekurangannya.
Mengendalikan dan mempertahankan “menciptakan citra diri yang positif” sangat berpengaruh dalam menciptakan hubungan yang harmonis dalam rumah tangga, keluarga, sahabat dll. Hal ini bukanlah kemunafikan, karena “menciptakan citra diri yang positif” memerlukan pengorbanan “melawan keinginan diri sendiri” yang dilakukan secara terus menerus sehingga diharapkan mempu membentuk diri seseorang menjadi lebih baik. Ini terjadi karena "menciptakan citra diri yang positif" merupakan suatu proses agar menjadi kebiasaan dalam berkehidupan dan bersosialisasi dengan sesama yang akhirnya mampu merubah sifat seseorang kearah yang positif.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar