Dengan mengendarai motor sekitar jam 12.50 WIB, kami (saya, istri dan tujuh saudara seiman) berangkat untuk mengikuti kebaktian hari minggu tanggal 6 Februari 2011 di sebuah desa yang namanya Desa Panji Baru di Kecamatan Mijen Semarang. Perjalanan cukup lancar tanpa ada hambatan sekalipun jalan raya yang semakin menyempit. Kondisi jalan bisa dibilang sepi, hanya sesekali kami berpapasan dengan motor lainnya sementara kendaraan roda empat jarang melalui jalan itu sekalipun jalannya bisa dibilang cukup mulus. Itu bisa dimaklumi karena jalan tersebut menuju perkebunan karet.
Hingga disuatu persimpangan, kami membelokan motor masuk ke Desa Panji Baru, jalan yang semula mulus kini memasuki jalan yang bergelombang karena jalan tidak sepenuhnya menggunakan paving blok (sebagian tanah sebagian lagi paving blok) dan agak licin karena paving blok sudah banyak yang berlumut dan tanah yang baru terkena air hujan.
Letak Gereja yang kami tuju tidak terlalu jauh dari jalan raya ± 500 meter. Bila dilihat bangunannya mungkin tidak bisa dikatakan bangunan gereja, bahkan bila dijadikan rumah huni hanya merupakan rumah huni sangat sederhana dengan berdinding kayu yang sudah mulai lapuk berdiri diatas sebidang tanah dimana sekitarnya masih banyak belukar. Lantai bangunan gereja hanya plesteran semen biasa dan kursi yang tersedia dalam gereja masing-masing 4 baris untuk setiap sisi dan setiap kursi bisa diisi 3 orang.
Penduduk Desa Panji Baru yang beribadah di gereja hanya sekitar 20 orang yang sebagian besar pekerjaan mereka adalah buruh dari perkebunan karet, namun kerukunan antar sesama sungguh luar biasa, masyarakat setempat mengijinkan umat kristiani beribadah dan membangun gereja di Desa Panji Baru.
Kami terlambat tiba di gereja (sekitar jam 13.10) karena ibadah dimulai jam 13.00, namun kami disambut dengan ramah oleh salah seorang Penatua gereja. Ibadah berjalan dengan sangat hikmat. Saat pemimpin liturgi memberikan kesempatan bagi jemaat untuk memberikan kesaksian..... seorang ibu muda dengan tertatih-tatih bahkan cenderung memaksa untuk jalan maju ke mimbar. Tubuhnya kurus dengan raut wajah yang terlihat sangat pucat seperti sedang menderita sakit. Ibu muda ini berdiri di mimbar sambil menyandarkan tangan dan badannya ke meja altar seperti ingin bertahan agar tidak terjatuh.
Dengan tenang, perlahan dan sedikit terbata-bata ibu muda ini memperkenalkan dirinya untuk memulai memberi kesaksian:
“Saya Ibu Lukas....., saya menderita penyakit kanker rahim, dokter memvonis kanker rahim saya sudah stadium 3...... dan selama menderita penyakit kanker rahim ini berat badan saya sudah berkurang 20 kg...., tapi Tuhan Yesus sungguh luar biasa.... saat ini saya masih diberi kesempatan untuk ikut beribadah dan bertemu dengan saudara-saudara semua.”
Bu Lukas terdiam sejenak seperti sedang menahan rasa sakit...
“Suami saya hanyalah seorang buruh.... penghasilannya tidak cukup untuk membiayai pengobatan saya di rumah sakit.... apalagi untuk membayar perawatan kemoterapi yang diajurkan oleh dokter bagi penderita kanker.....”
Kembali Bu Lukas terdiam dan mulai terdengar isak tangisnya....
“Bila kanker ini sedang menggerogoti tubuh saya.... rasa sakitnya luar biasa.... (kembali Bu Lukas terisak)... saya hanya bisa menangis sambil menahan rasa sakit dan memanggil “Tuhan Yesus” terus menerus.... dan rasa sakit berangsung-angsur berkurang.....”
“Biarlah dokter memberi vonis yang amat menyakitkan sekalipun, tapi saya hanya memegang dan menanti vonis dari Tuhan Yesus mengenai penyakit saya ini..... saya sungguh yakin dibalik penderitaan yang saya alami ini... ada maksud Tuhan Yesus yang terindah bagi kehidupan saya dan keluarga....karena Tuhan Yesus sungguh luar biasa....”
Bu Lukas terdiam cukup lama sambil menahan isak tangisnya....
“Semoga kesaksian saya ini bisa menumbuhkan dan mengembangkan iman percaya kita kepada Tuhan Yesus yang sungguh indah dan luar biasa.... Tuhan Yesus memberkati” Bu Lukas menutup kesaksiannya.
Ini kesaksian dari seorang ibu penderita kanker rahim stadium 3 yang tinggal di sebuah desa yang dapat memberikan kesaksian layaknya seorang terpelajar dan dalam perjuangan melawan penyakit dan kondisi ekonominya ia tidak ingin dikasihani tetapi justru mampu berbagi berkat dan kabar gembira bagi sesama yang mendengar kesaksiannya dan terus mencari kerajaan Allah.
----
Seorang ibu muda dalam pendertiaannya yang luar biasa dengan kesederhanaan hidup tetapi masih mampu melihat dan merasakan belaian kasih Yesus... apakah bukan hal yang luar biasa?.... mampukah kita bertahan seperti ibu Lukas itu?..... kita yang sudah diberi oleh Tuhan jauh lebih baik dari ibu Lukas seringkali mengeluh akan kondisi tubuh maupun perekonomian kita.... seandainya kita yang mengalami hal seperti ibu Lukas... apa yang akan kita lakukan??.... apakah kita akan terus memuji dan mengagungkan Tuhan atau justru sebaliknya memprotes, mengumpat dan marah kepada Tuhan????
Saya teringat akan nas Alkitab dari Matius 9:20-22 :
9:20 Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. 9:21 Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." 9:22 Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.
Sering saya mencoba memahami akan nas Alkitab tersebut.... “perempuan itu hanya menjamah jumbai jubah Yesus” dapat memperoleh kesembuhan secara total dan mendapat bonus yang sangat luar biasa “menjadi anak kekasih Tuhan Yesus” (..."Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku,...”) ..... bagaimana dengan orang yang mengikuti disekitar Yesus yang justru bersentuhan langsung dengan Yesus... apakah mereka juga memperoleh kesembuhan atau tidak terjadi perubahan apapun juga dalam dirinya????
Satu kata yang menjadi favorit saya dari kutipan diatas dan saya rasa ini adalah kunci dari penyembuhan si perempuan itu, sehingga saya ingin mendengar Tuhan Yesus juga berkata kepada saya: “...., imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Vonis yang sungguh indah didengar bila Tuhan Yesus mengatakan seperti itu.... dan benar seperti yang ibu Lukas katakan.... selama kita terus berusaha biarkan dokter atau siapapun memberi vonis yang baik atau tidak baik... tetapi yang utama adalah vonis dari Tuhan Yesus.
Semoga Ibu Lukas dan kita semua yang percaya akan keagungan dan kemurnian cinta kasih Tuhan mendapat vonis dari Tuhan.... “imanmu telah menyelamatkan engkau”.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar