Waktu kecil saya selalu diajari orang tua untuk saling memaafkan dengan teman saat terjadi pertengkaran, apakah saya atau teman yang salah itu bukan ukuran untuk meminta maaf. Biasanya orang tua meminta saya untuk bersalaman dan saling tersenyum. Hasil dan manfaatnya sungguh luar biasa, saya dan teman saling meminta maaf dan tidak lama kemudian kami bermain dan tertawa lagi seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Sebelumnya saya sering bertanya kepada diri sendiri, kenapa harus minta maaf kalau bukan saya yang melakukan kesalahan?.... dengan berjalannya waktu dan terus merenungi kejadian itu baru saya sadari dan pahami bahwa banyak manfaat dan makna dari memaafkan itu, minimal saat saya meminta maaf (apakah saya atau teman yang bersalah) ada 2 (dua) permintaan maaf yang dilakukan, yaitu permintaan maaf kepada teman dan diri sendiri.
Ucapan kata “maaf” akan melibatkan 2 (dua) obyek yaitu yang “meminta” dan “memberi/ tidak memberi”. “Maaf” bisa diartikan mengampuni orang yang melakukan kesalahan kepada kita dengan tulus dan iklas dengan konsekuensi kita harus mampu melupakan apa yang sudah dilakukan/ diperbuat orang itu terhadap kita (kejadian itu seakan-akan tidak pernah terjadi).
Memaafkan Orang Lain
Idealnya memaafkan akan mencairkan atau memecahkan kebuntuan suasana, hubungan, pandangan, komunikasi dan lain-lain dengan sesama dan akan menimbulkan hubungan yang harmonis. Namun apakah kita mampu memberi maaf dengan tulus dan iklas atau benar-benar melupakan kesalahan orang yang telah menyakitkan kita?...., tidak jarang kita memaafkan orang lain hanya di mulut saja, tetapi hati berkata lain dan tetap mengingat-ingat perbuatannya itu, bahkan kita memilah-milih apakah orang itu layak/ pantas diberi maaf tergantung dari seberapa sakit yang kita rasakan akibat perlakukan/ perbuatannya.
Saya teringat sebuah kisah (nyata) dimana seorang gadis penderita kanker payudara stadium 2 bisa sembuh total hanya karena mengampuni/ memaafkan ayahnya yang telah berkhianat dan mengusir keluarganya (ibu, gadis itu dan dua orang kakaknya) yang mengakibatkan ibunya meninggal dunia.
Kok bisa terjadi seperti itu?.... sering kita mengabaikan atau lupa bahwa kekuatan psikis berhubungan langsung dengan kondisi tubuh, saat psikis kita sakit maka tubuhpun sakit demikian pula sebaliknya. Nah saat kita memaafkan orang lain, secara psikis ada beban berat yang selama ini kita bawa (dendam) terlepaskan/ terbuang dari kehidupan ini sehingga ada penambahan kekuatan psikis yang membawa kita dalam kebebasan, ketenangan dan kedamaian di hati, pikiran dan perasaan.
Kekuatan psikis ini merupakan anugerah Tuhan bagi setiap kita yang percaya. Jadi jangan pernah mengatakan bahwa kebebasan, ketenangan dan kedamaian yang kita alami saat memaafkan adalah kemampuan dan kekuatan diri sendiri dalam melawan berbagai macam penyakit. Keyakinan inilah obat yang paling ampuh/ mujarab dalam penyembuhan berbagai macam penyakit.
Memaafkan Diri Sendiri
Berkaca pada kemampuan “memaafkan orang lain”, maka kita juga harus mempunyai kemampuan untuk “memaafkan diri sendiri”.....
“Memaafkan diri sendiri” dapat dilihat dari dua sudut pandang; memaafkan kasalahan yang akan dilakukan dan memaafkan kesalahan yang sudah dilakukan. Kalau dilihat secara sepintas kelihatan tidak jauh berbeda, yang membedakan hanya kata “akan” dan “sudah”, tetapi hasilnya bisa berbeda dan bertolak belakang.
1. Memaafkan kesalahan yang akan dilakukan.
Ini terjadi bila seseorang sebenarnya tahu bahwa apa yang akan dilakukan adalah salah, namun tetap saja dilakukan dan untuk mengurangi rasa bersalah, ia berusaha untuk “memaafkan diri sendiri” (bentuk dari pembenaran diri sendiri). Biasanya sebelum melakukan, ia akan merancang berbagai macam alasan agar perbuatannya bisa dimaklumi dan dianggap wajar oleh orang lain. Perilaku ini menunjukan bahwa orang itu sedang berusaha membunuh karakter dan hati nuraninya terhadap kebenaran.
Ketika kesalahan awal tidak mengalami konsekuensi apapun (teguran atau hukuman), maka selanjutnya orang itu akan kembali merancang/ mereka-reka kesalahan dan alasan-alasannya. Akhirnya berbagai macam cara dilakukan agar keinginannya bisa terpenuhi.
Lambat laun tindakan ini akan menjadi sikap dan perilakunya dalam menjalankan berbagai aktivitas keseharian dan tidak ada lagi rasa bersalah dan tidak perlu lagi memaafkan diri sendiri karena keberhasilannya dalam membunuh karakter dan hati nuraninya terhadap kebenaran.
Manusia tidak ada yang luput dari kesalahan dan banyak orang yang sulit untuk melepaskan/ melupakan kesalahan masa lalunya terutama yang berdampak fatal dalam ia menjalani kehidupan selanjutnnya. Efek dari kesalahan masa lalu membuat banyak orang merasa hidupnya tertekan/ terbebani, selalu resah, ekstra hati-hati, susah tidur dan lain-lain sehingga menimbulkan banyak penyakit baik phisik maupun psikis, bahkan tidak sedikit yang mengalami gangguan jiwa.
Kesalahan masa lalu sering membelenggu dan seperti menutup kreativitas dalam setiap aktivitas kita sehari-hari. Bila kita mau dan mampu memaafkan diri sendiri, maka semuanya tidak perlu terjadi. Kita menyadari bahwa manusia tidak luput dari kesalahan, nah selama kita mau memperbaiki diri jangan terlalu sering melihat kebelakang, maju terus dan jadikan kesalahan masa lalu hanya merupakan cermin atau warning untuk tidak melakukan kesalahan yang sama atau yang lainnya.
Jangan pernah menyerah untuk memperbaiki diri dan tetap berpikir positif sekalipun dalam proses itu ada kesalahan yang kembali dilakukan, semua ini akan memperkaya wacana kita dalam menyikapi kondisi dan masalah secara bijak.
Mengucapkan atau memberi kata maaf sangat mudah, tetapi benarkah kita sudah mengucapkan atau memberi maaf dengan tulus dan sungguh????...... bila kita melakukan dengan tidak tulus dan sungguh, maka kita akan kembali lagi harus belajar untuk memaafkan orang lain dan diri sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar