Rabu, 09 Maret 2011

Tuhan Peduli

Sabtu pagi di kota Bandung saat itu udara cerah ditahun 1991, seorang pemuda bangun dari tidurnya dan merenungkan apa yang akan dia kerjakan untuk menghabiskan hari yang baginya begitu panjang karena kondisi keuangan yang benar-benar menghimpitnya.
“Hari ini tak ada uang sesenpun” gerutunya, berarti hari ini dan esok tidak ada makanan yang bisa masuk keperut selain air putih, sementara sabtu dan minggu kantor libur sehingga tidak bisa meminjam uang di kas kantor.

Akhirnya pemuda itu putuskan pergi kekantor yang kebetulan tidak terlalu jauh dari kos-kosannya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit. Sambil melamun ia berjalan kaki menuju kantornya, dalam perjalanan tanpa disangka ia menemukan uang dipinggir jalan, wah... rejeki nomplok nih... gumamnya dan mengambil uang tersebut yang ternyata sejumlah Rp. 5.000,- dalam bentuk pecahan Rp. 1.000,- yang dilipat-lipat sampai kecil. Sambil tersenyum ia melanjutkan perjalanannya dan membayangkan hari ini dan esok ia bisa makan. “Terima kasih Tuhan atas berkat yang Kau berikan kepadaku” doanya dalam hati.

Sangkin asik dengan pekerjaannya (walaupun hanya tinggal sedikit), tak terasa waktu sudah menjelang sore yang berarti siang hari ia tidak makan. Sekitar jam 7 malam ia baru keluar dari kantornya dan langsung ke warung soto dipinggir jalan. Makan malam yang rasanya nikmat sekali menghabiskan uang Rp. 2.000,-, tapi dia merasa lega karena bisa tidur tanpa kelaparan.

Esok harinya pemuda itu bangun pagi-pagi sekali dan ia merasa ada suatu dorongan kuat untuk pergi ke gereja, dengan berjalan kaki diapun mengikuti dorongan itu pergi ke gereja. Saat ibadah berlangsung ada suatu perasaan galau, pedih dan sedih melandanya, ia seperti sedang diperlihatkan gambaran seorang ibu setengah baya yang sedang mencari uangnya yang hilang, dimana uang itu akan digunakan untuk membeli makanan bagi anak-anaknya yang masih kecil. ”Apakah uang yang aku temukan kemarin milik ibu itu?” katanya dalam hati sambil meneteskan air mata.

Saat kolekte diedarkan pemuda itu mengambil seluruh sisa uang sebesar Rp. 3.000,- yang ditemukannya dan menyerahkan kedalam kantong persembahan sambil berkata dalam hati ”Tuhan maafkan aku yang telah mengambil hak orang lain, dan ini aku kembalikan semua kepadaMu dan mohon maaf karena aku sudah menggunakan sebagian untuk makan malam kemarin dan berkatilah ibu yang kehilangan uangnya”. Ada perasaan damai yang dirasakannya setelah menyerahkan seluruh sisa uang itu.

Saat perjalanan pulang dari gereja pemuda itu berfikir bahwa untuk hari ini tidak jadi masalah bila tidak makan, yang penting apa yang menjadi bebannya sudah terlepaskan, dan benar hari minggu itu si pemuda tidak makan sama sekali.

Senin pagi sesampainya kantor, ia sudah berniat untuk meminjam uang kas  kantor, namun sebelum niatnya dilakukan, atasannya memanggil, ”ada apa ini, tidak biasanya bos memanggil sepagi ini” pikirnya. Begitu masuk ruang atasannya.... ”kamu dan Agus... hari ini berangkat ke Semarang dan lanjut ke Surabaya karena ada masalah dikantor perwakilan disana... tolong bantu mereka untuk menyelesaikan masalah itu... saya kasih waktu seminggu untuk menyelesaikan di dua kantor perwakilan..., sekarang silahkan urus keberangkatan kalian ke bagian administrasi...” perintah atasannya.

Uang perjalanan, transportasi dan akomodasi selama seminggu sudah lebih dari cukup bila hanya untuk makan selama sebulan, dan perkerjaan adalah konsekuensi dan tanggung jawabnya sebagai karyawan, bukan itu yang ia pikirkan, tapi bagaimana luar biasanya Tuhan memberikan apa yang ia butuhkan bukan apa yang ia inginkan. Sang pemuda tidak perlu lagi meminjam uang ke kantor, namun sebaliknya dia memperoleh jauh lebih banyak dari rencana yang akan dipinjamnya bahkan ratusan kali lipat dari apa yang telah dia serahkan kepada Tuhan melalui kantong persembahan.

Tepat seperti apa yang tertulis pada Matius 6:31-34 :
6:31   Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
6:32   Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
6:33   Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
6:34   Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Akankah kita masih ragu akan hidup dan kehidupan ini?...., bila kita mau percaya sungguh akan janji Tuhan yang pasti akan digenapi, maka yakinlah bahwa Tuhan juga akan senantiasa memelihara kita dalam setiap langkah dan tuntunan tanganNya tidak akan pernah dilepaskan. Tapi biasanya justru kita yang ingin melepaskan diri dari tuntunanNya... mulai saat ini usahakan jangan pernah lagi melepaskan tuntunan tangan Tuhan dalam kehidupan keseharian kita dan nikmatilah hidup bersama Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar