Selasa, 15 Maret 2011

Berbahagialah Walau Tidak Melihat….

“Mama sakit…. tensinya tinggi dan penyakit jantungnya kambuh lagi... jadi mama harus di opname, Vid... kalau bisa bantu kami juga masalah biaya pengobatan dan rumah sakit”, kata abang saya di Jakarta lewat telepon. Kabar yang sangat mengejutkan karena baru dua hari yang lalu saya kembali ke Bandung setelah menemui mama dan saat itu mama benar-benar sehat. Konsentrasi buyar dan rekan-rekan kerja sepertinya langsung tahu ada berita yang kurang baik waktu melihat perubahan wajah dan tingkah laku saat  saya menerima telepon.

Rekan senior saya datang dan bertanya: “ada berita apa? kelihatannya kurang baik yah... “, “orang tua saya sakit Pak... harus diopname” dan saya menceritakan semua kepada mereka. “Untuk bantuan biaya pengobatan dan rumah sakit kamu bisa pinjam ke koperasi” sarannya. "Tapi Pak... saya karyawan baru disini... belum satu tahun dan masih berstatus calon pegawai sementara biaya yang dibutuhkan tidak sedikit", jawab saya lesu. “Sudah coba saja dulu... saya akan mereferensikan ke pihak koperasi, kalau memang nggak bisa... biar pinjaman itu atas nama saya.... ini masalah yang serius masa nggak ada pertimbangan...., kata senior dengan bijak.

Atas bantuan rekan senior dan referensi dari manajer kami maka dana pinjaman dari koperasi bisa cair walaupun membutuhkan waktu beberapa hari. Sungguh saya bersyukur kepada Tuhan yang telah membantu melalui rekan senior dan menajer. Untuk masalah cuti (saya belum mempunyai hak cuti karena berkerja belum 1 tahun), saya diperbolehkan mengambil cuti dengan kompensasi mengurangi jatah cuti tahun berikutnya.

Ketika tiba di Bekasi (rumah abang dimana orang tua kami tinggal), mama sudah menungguku sambil beristirahat dan seluruh keluarga sudah berkumpul semua. Rupanya saat saya masih mengusahakan pinjaman ke koperasi, mama sudah diperbolehkan pulang dan harus istirahat total di rumah tapi masih harus kontrol. Mama menyambutku dengan pelukan dan ciuman kasih sambil terus tersenyum... hmmm senyuman yang selalu saya rindukan bila tidak dekat dengan mama. Bahagia rasanya melihat mama yang kelihatan mulai membaik. “Vid... besok jam 5 sore mama harus kontrol lagi ke rumah sakit.... mau ikut antar mama nggak?”, tanya mama. “Pasti ma... aku ikut” tanpa berpikir panjang aku menjawabnya.

Esok sorenya kami berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan mobil sewaan. Banyak pasien yang mau kontrol sehingga kami harus menunggu selama ± 45 menit, mama diperiksa selama ± 1,5 jam. Hasil pemeriksaan membuat kami sungguh senang dan bahagia... mama dinyatakan sehat... tensi, diabetes dan jantungnya dinyatakan normal dan stabil. Saat perjalanan pulang mama mengatakan, “mama lapar nih... boleh nggak mama minta ditraktir?”, “mama mau makan apa?” tanyaku.... “pa... untuk sekarang biar mama yang pilih tempat makannya yah!” kataku kepada bapa yang selalu setia menemani mama.... bapa mengangguk sambil tersenyum. Disebuah restauran mama ingin makan kwetiau kuah... biasanya kalau pesan kwetiau mama selalu memesan kwetiau goreng, tapi biarlah bagi saya saat itu hanya ingin membahagiakan mama. Mama begitu menikmati makan kwetiau kuah yang membuat hatiku semakin senang dan bahagia......
Beberapa hari kami berkumpul dan yang ada hanya canda tawa dan membuat perkembangan mama yang semakin baik, hingga kami harus berpisah untuk kembali ketempat masing-masing.

Sepuluh hari kemudian... minggu sekitar jam 3.30 pagi pintu kamar kos-kosanku diketuk seseorang, saya membuka pintu walau mata masih terasa berat. Saya agak tersentak dan bingung “ngapain tetangga rumah di Bekasi datang kesini....” tanyaku dalam hati... “mama mu kambuh lagi... kamu susah dihubungi karena nggak ada telepon di kos-kosanmu, jadi keluargamu minta aku menjemputmu...., tapi tenang saja kita nggak perlu buru-buru kok....., sekarang kemasi dulu pakaianmu...., nanti dijalan kita ngopi dulu supaya kamu agak segar” katanya. Tanpa diminta dua kali, saya buru-buru mengemasi pakaianku dan kami segera berangkat ke Bekasi.

“Mas tolong jalannya santai saja dan tidak udah buru-buru....” kata tetanggaku pada supir yang membawa kami. Dalam perjalanan yang cukup hening, tiba-tiba saya merasa ada beban yang teramat berat menghimpit.... terbayang dengan jelas saat dimana aku bermanja-manja dengan mama.... aku benar-benar merasakan bagaimana aku tidur dipangkuan mama dan mama membelai-belai rambutku dengan penuh kasih... aku dipeluk dan dicium mama untuk mandamaikan hatiku saat aku terbebani dan selalu mengatakan ini mama, mama akan selalu mendampingimu dalam kondisi apapun juga.... aku melihat dan mendengar namaku selalu disebut saat mama berdoa... aku melihat bagaimana mama tersenyum dan memaafkanku serta mencium keningku saat aku meminta maaf karena suatu kesalahan padahal mama sempat menangis akibat kesalahanku... dan masih banyak lagi yang saya alami yang berhubungan dengan mama.....

Saat itu saya tidak bisa membendung air mata.... sepanjang jalan saya menangis tersedu-sedu dan ini juga yang membuat konsentrasi supir buyar dan hampir terjadi kecelakaan. Saat tiba di dekat rumah... saya melihat banyak orang sudah berkumpul didepan rumah... tanpa pikir panjang sekalipun mobil belum berhenti saya membuka pintu mobil kemudian loncat dan langsung lari masuk ke dalam rumah.... dan saya melihat........ mama sudah terbaring di dalam peti yang masih terbuka..... gelap dan hampa terasa saat itu.... saya menangis dengan keras sambil mengatakan “mama bangun...., mama bangun....” sambil mencium kening mama terus menerus sementara tubuhku bersandar di peti karena saya tidak punya kekuatan lagi untuk menopang tubuh ini....

Setelah acara pemakaman, kami kakak beradik dan bapa berkumpul dirumah sambil berceritera mengenai kondisi mama dari mulai sembuh hingga meninggal yang membutuhkan waktu sangat singkat hanya 10 hari. Dan bapa juga menceritakan saat saya dijemput oleh tetanggaku, bapa berpesan agar jangan memberitahu mama sudah meninggal, bapa khawatir akan menyusahkan tetanggaku bila sebelum sampai Bekasi saya sudah shock. Saat itu adikku juga menceritakan malam sebelum mama meninggal ia bermimpi melihat mama sudah meninggal dan sudah di dalam peti, dan yang membuat ia kaget, baik peti, posisi maupun pakaian yang dikenakan mama persis sama dengan apa yang dilihat dalam mimpinya.

Saat itu saya teringat sekitar 3 minggu sebelum mama meninggal, sekitar jam 3.30 pagi saya mendengar dengan jelas suara yang mengatakan “Berbahagialah walau tidak melihat...”  kata-kata itu diulang sampai tiga kali dengan suara dan intonasinya yang indah, saat itu saya tidak mengerti maksud dari perkataan tersebut. Saya mencoba berfikir positif... kami harus merelakan mama karena mama telah berbahagia kembali kepangkuan Bapa di surga, sekalipun mama sudah tidak bisa kami lihat lagi namun dalam pikiran dan hati kami masih tersimpan dengan sangat baik kenangan indah bersama mama.

Ketika aku ceritakan hal ini, maka abang dan adikku langsung mengatakan bahwa perkataan itu ada yang mirip dengan salah satu isi dalam Alkitab. Kami langsung mencarinya, walaupun kata-katanya tidak persis sama namun menurut pendapatku mempunyai makna yang sama dan lebih disempurnakan :

Yohanes 20:29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Saya mencoba untuk memahami arti dari semua ini, karena saya percaya ini bukanlah suatu kebetulan belaka.... hingga saya dapat menyimpulkan keterkaitan antara suara dan isi Alkitab walaupun tidak sempurna;

Saat saya masih bersama mama, hati dan perasaan saya bisa merasakan rasa sayang, cinta dan kasih terhadap mama, sekalipun saat ini mama sudah tiada tapi saya masih tetap bisa merasakan semua itu walau hanya dalam kenangan. Namun apakah saya juga bisa dengan sungguh memiliki dan merasakan rasa sayang, cinta dan kasih kepada Kristus Yesus yang belum pernah saya lihat dan sentuh sama sekali????.

Kita bisa dengan mudah mengatakan “aku mengasihiMu Yesus!! atau aku menyayangiMu Yesus atau aku mencintaiMu Yesus!!” melalui perkataan atau mungkin dalam hati.... tapi sungguhkah kita bisa menimbulkan rasa sayang, cinta dan kasih kepada Yesus sama seperti ketika kita mengatakan hal sayang, cinta dan kasih kepada orang yang dekat dengan kita???...., sementara selama ini kita tidak pernah melihat dan menyentuh Yesus sama sekali??. Bukankah suatu kebohongan bila kita hanya bisa mengatakan tapi tidak bisa merasakan dengan sungguh??. Saya percaya bahwa Kristus Yesus menginginkan kita bukan hanya sekedar bisa mengatakan “aku mengasihi, menyayangi atau mencintai Yesus” melalui perkataan atau dalam hati, tapi juga dengan sungguh bisa memiliki dan merasakan rasa sayang, cinta dan kasih kepada Kristus Yesus.

Bila anda bisa memiliki dan merasakan rasa sayang, cinta dan kasih kepada Kristus Yesus, maka anda akan merasakan sesuatu hal yang sungguh luar biasa yang belum pernah anda rasakan sebelumnya, anda akan menangis karena rasa bahagia, damai dan tentram yang sungguh indah dan luar biasa..... karena rasa itu sesungguhnya datang dari Kristus Yesus. Yesus selalu menanti kita untuk memiliki rasa sayang, cinta dan kasih kepadaNYa.... maukah anda memilikinya???

Terima kasih Kristus, Engkau telah mengajariku untuk memiliki rasa sayang, cinta dan kasih kepadaMu melalui berpulangnya mama tercinta kedalam pangkuan kudusMu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar