Rabu tanggal 16 Maret 2011 sekitar jam 12.00 saya beserta beberapa rekan kantor tiba disebuah Panti Asuhan Bhakti Asih yang diperuntukkan bagi penderita cacat ganda. Mengapa dikatakan cacat ganda?…. penderita cacat ganda mengalami cacat bukan hanya secara phisik saja tapi mental juga. Jumlah penderita cacat ganda yang ada di Panti Asuhan Bhakti Asih berjumlah 26 orang yang berumur mulai 16 bulan sampai 30 tahun. Perawat yang melayani mereka sebanyak 16 orang, bukanlah jumlah personil yang memadai karena mereka harus melayani selama 24 jam, sehingga harus dibagi dalam 3 shift (pagi, siang dan malam). Ada hal yang sungguh luar biasa terjadi, walaupun personil kurang memadai tapi semua penderita cacat ganda kelihatan selalu bersih dan terawat.
Keberadaan mereka di Panti Asuhan Bhakti Asih sebagian besar dikirim dari yayasan lain (misalnya anak yatim piatu) dan dititip oleh orang tuanya. Suatu kenyataan, sebuah keluarga mengadopsi bayi dari suatu panti asuhan anak yatim piatu, ketika waktu berjalan dan mengetahui anak yang diadopsinya menderita kelainan (cacat ganda), sang orang tua mengembalikan bayi tersebut ke Panti Asuhan ini… dan bayi itu saat ini baru berusia 16 bulan.
Pendanaan Panti Asuhan Bhakti Asih diperoleh dari donatur tetap dan tidak tetap yang cenderung kurang, sehingga pengeluaran yang dilakukan harus menyesuaikan dengan donasi yang mereka peroleh, sangat ironis dengan kebutuhan penderita cacat ganda ini…..
Beberapa anak ada juga yang hiperaktif, sehingga keseharian anak-anak ini lebih sering berada di tempat tidur yang keempat sisinya dibuat terali besi atau kayu agar tidak menyakiti penderita lainnya, sementara penderita lain tidak dapat berbuat apa-apa kecuali hanya posisi tidur, membalikkan badan untuk tengkurap saja tidak bisa apalagi untuk duduk. Setiap pagi para perawat mengajak mereka untuk jalan-jalan keluar dan atau berjemur sinar matahari.
Aktivitas keseharian penderita cacat ganda tidak pernah lepas dari sang perawat baik untuk makan, mandi, berganti pakaian, buang air dll. Penderita cacat ganda sangat tergantung pada perawatnya, atau dapat juga dikatakan tanpa sang perawat mereka hanya seseorang yang tidak dapat berbuat apa-apa dan tiada harapan untuk hidup.
Bagi saya pribadi, saya sangat bersyukur karena perjalanan ini sungguh berarti dalam membuka mata hati dan nurani dalam melihat kebesaran dan keagungan Tuhan. Mengapa demikian?…. minimal ada 2 hal penting yang bisa saya ambil maknanya dari perjalanan ini :
1. Penderita cacat ganda itu sangat tergantung kepada perawatnya, mereka tidak dapat melakukan apa-apa bila tidak bersama perawatnya.
Apakah ini berarti keberadaan penderita cacat ganda itu tidak berarti dan hanya menyusahkan orang lain?…. mungkin bila kita tidak memiliki kepedulian terhadap sesama maka kita dengan cepat menjawab “mereka sama sekali tidak berarti”, namun bila kita masih mau peduli maka kita tidak akan langsung bisa menjawab….
Saat saya melihat keberadaan mereka… justru saya melihat akan diri sendiri bahwa hidup dan kehidupan saya tiada berarti bila tanpa tuntunan, bimbingan dan perawatan dari Kristus…. dan sungguh mereka yang telah mengingatkan bahwa segala sesuatu yang terjadi didalam hidup ini tidak pernah lepas dari pandangan dan campur tangan Tuhan.
Bila kita mau mencoba bercermin dan introspeksi terhadap diri sendiri…. maka kita tahu sebenarnya kita sama seperti mereka…. kita tidak dapat berbuat apa-apa…., sebagai bahan renungan coba jawab 3 pertanyaan ini;
- apakah materi yang kita miliki dan peroleh semata-mata karena kemampuan diri sendiri?
- apakah tubuh yang lengkap dan sempurna ini buatan diri sendiri?
- apakah kesehatan tubuh, jiwa dan roh ini kita yang menciptakan?
masih banyak pertanyaan mengenai diri dan hidup kita ini yang tidak mungkin lepas dari campur tangan Tuhan.
- apakah tubuh yang lengkap dan sempurna ini buatan diri sendiri?
- apakah kesehatan tubuh, jiwa dan roh ini kita yang menciptakan?
masih banyak pertanyaan mengenai diri dan hidup kita ini yang tidak mungkin lepas dari campur tangan Tuhan.
Kita seharusnya lebih bersyukur dengan kesempurnaan tubuh, jiwa dan roh yang Tuhan berikan. Lawatan dan penyertaan Tuhan kepada kita tidak pernah berubah sehingga segala sesuatu dalam menopang hidup ini telah dilengkapi dan disempurnakan oleh kasih karunia Tuhan. Jadi kalau kita menyadari akan hal itu… pantaskah kita bermegah diri dengan semua prestasi yang telah kita peroleh dan lakukan?
Kejadian ini mengingatkan saya akan ajaran Kristus Yesus yang diambil dari :
Matius 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Salah satu penerapan dari ajaran Kritus Yesus ini adalah kepedulian kita terhadap penderita cacat ganda ini, dan masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan pertolongan. Berkat begitu banyak yang telah dan akan Tuhan berikan kepada kita, tapi ada juga berkat yang diberikan Tuhan untuk sesama melalui kita, apakah kita mau menyalurkannya?…. berbahagialah orang yang menyadari bahwa ia dipercaya Tuhan untuk menyalurkan berkat kepada sesama.
2. Sang perawat yang dengan tekun memperhatikan dan merawat penderita cacat ganda.
Niat dan kesungguhan dalam melayani secara konsisten diterapkan dalam tindakan nyata bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilaksakan, begitu mudah kita mengucapkan “mau melayani” tapi begitu timbul sedikit masalah langsung menggerutu dan kembali surut dalam pelayanan.
Sering kita berpandangan “yang penting memiliki niat” yang berarti kita sudah memiliki empati dan peduli terhadap sesama dan untuk melakukan tindakan nanti dulu lihat situasi dan kondisi. Cukupkah kita hanya memiliki niat, empati atau rasa peduli terhadap sesama tanpa suatu tindakan apapun juga?, bukankah Yesus sudah mengajarkan pada kita agar kita bukan hanya sebagai pendengar tetapi juga sebagai pelaku firman Tuhan? dan sudah juga ditegaskan dalam firman Tuhan dari :
“Yakobus 2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”
Suatu tindakan dan kepedulian yang luar biasa secara konsisten sudah ditunjukkan oleh sang perawat dengan menyediakan waktu dan konsentrasinya untuk melayani penderita cacat ganda ini. Apakah kita mampu seperti mereka?. Setiap kita diberi Tuhan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam menyikapi dan menjalani hidup dan kehidupan ini, tapi mampukah kita melakukannya tanpa bersungut-sungut bahkan masih bersedia secara konsisten berbagi kasih dan berkat kepada sesama yang membutuhkan dengan tulus dan ikhlas?
Tiada yang sia-sia bila semua ini kita lakukan hanya untuk kemuliaan Tuhan, sebab Tuhan juga yang memampukan kita untuk bertindak dan berkarya, sehingga dengan leluasa Tuhan membentuk hidup dan kehidupan kita seturut kehendakNya. Janji Tuhan tidak pernah diingkariNya, bahkan Tuhan telah menyediakan tempat bagi kita yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap perkara dan siap menyongsong sang mempelai laki-laki :
Matius 25:1. “Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. 25:2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. 25:3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, 25:4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.
Sang perawat sudah membawa minyak dalam buli-buli mereka, bagaimana dengan kita????
Jadilah bijak dalam menyikapi dan merespon situasi dan kondisi yang terpampang di depan, biarkan Tuhan turut campur tangan dalam setiap perkara dan aktivitas keseharian, sehingga sungguh Tuhan bertahta dalam hidup dan kehidupan kita ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar