Jumat, 01 April 2011

Spiritualitas Kenosis

Bahan : Filipi 2:1-11
Judul : Spiritualitas Pengosongan Diri sebagai Dasar Kehidupan Kristen

Perikop yang menjadi perhatian kita adalah perikop yang berbicara tentang dasar yang utama dari kehidupan Kristiani. Mari kita mulai dengan sebuah prinsip dasar untuk menjalani kehidupan dengan didasarkan atas ungkapan bijak seorang pertapa Australia (bernama: Ajahn Brahm) yang mengatakan, “Belajarlah hening, dan kita akan mengetahui bahwa diri kita telah terlalu banyak bicara”.

Hal ini senada dengan ungkapan Madame Theresia yang mengajak setiap orang selalu mawas diri melalui jalan keheningan, sehingga Madame Theresia mengatakan bahwa prinsip dasar untuk menjalani kehidupan adalah:
  • Buah dari keheningan adalah doa
  • Buah dari doa adalah iman
  • Buah dari iman adalah kasih
  • Buah dari kasih adalah pelayanan
  • Buah dari pelayanan adalah perdamaian
Ungkapan ini mau mengkondisikan seseorang untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan mengembangkannya ke arah komunikasi dengan Tuhan. Semua ini hanya bisa dilakukan melalui keheningan.

Dalam keheningan kita akan belajar tentang hidup, seperti yang diajarkan Yesus, yaitu hidup yang didasarkan atas pengosongan diri, sebuah gaya hidup yang sederhana dan yang tidak didasarkan atas keinginan untuk selalu dihormati. Dalam penghayatan akan kehidupan yang dijalani-Nya, Yesus adalah Tuhan yang tidak pernah menuntut orang lain untuk menghormati diri-Nya karena Ia adalah Tuhan, tetapi justru Ia selalu menempatkan diri sejajar dengan manusia. Dengan demikian jika kita mau hidup sebagaimana layaknya Yesus hidup, maka hendaklah kita selalu menempatkan diri sejajar dengan sesama dan tidak merasa lebih tinggi dari yang lain!

Di sisi lain, semangat pengosongan diri yang diajarkan oleh Yesus ini juga mengandung pengertian kerendahan hati. Kerendahan hati yang dimaksud di sini berarti mau mengerti orang lain, tanpa harus memaksa orang lain untuk mengerti dirinya. Jadi jika kita mau hidup di dalam kebersamaan dengan sesama, maka kita harus menempatkan keutamaan orang lain ketimbang keutamaan diri kita sendiri. Mengapa demikian? Karena gaya hidup kerendahan hati inilah yang selalu mewarnai kehidupan Yesus, sehingga berbicara tentang Yesus berarti berbicara tentang semangat kerendahan hati...

Melalui kerendahan hati yang mewujud secara nyata dalam kehidupan, maka kita akan dapat menemukan bahwa semangat pengosongan diri dalam menjalani hidup ini sebenarnya mau membuka tabir bahwa Allah adalah Cinta. Jika Allah adalah Cinta, maka Cinta itu adalah Allah. Dengan demikian prinsip dasar ini menekankan bahwa hanya orang yang memiliki cinta saja yang dapat dikatakan sebagai orang yang Bertuhan. Semangat pengosongan diri ini mau mengajak kita untuk mengisi seluruh relung hati kita dengan cinta. Karena dengan hidup di dalam cinta, maka kita juga sekaligus menunjukkan bahwa kita sedang hidup di dalam Tuhan.

Penulis : Pdt. Firman Pandjaitan, Mth.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar