Bacaan : Yohanes 13: 1-11
Nats : Ay. 8
Pasal ini merupakan pasal yang cukup mengharukan, terutama pada saat kita membaca apa yang menjadi dialog antara Yesus dengan Petrus; khususnya pada saat Yesus berkata, “Jika Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak akan mendapat bagian di dalam Aku.” Apa maksud perkataan Tuhan Yesus ini?
Banyak pembaca Injil yang karena bingung langsung maju kepada ayat tentang perintah Yesus untuk melakukan pelayanan yang rendah itu, “Karena Aku telah memberikan teladan kepadamu, maka kamu pun harus melakukan apa yang telah Kulakukan kepadamu.” Apakah memang begitu yang dimaksudkan Yesus dengan kisah ini?
Marilah kita meninjau kembali kisah ini dengan seksama. Pertama: kita perlu ingat bahwa apa pun yang dilakukan Yesus kepada murid, semua itu dilakukan di bawah bayangan salib; dan yang kedua ingatlah bahwa yang melakukan semua itu adalah YESUS SENDIRI, yang sekaligus mau memproklamirkan diri-Nya sendiri sebagai penanggung segala dosa manusia! Kedua bagian ini memiliki makna yang sangat dalam.
Mari kita lihat kedua hal ini. Pertama yang dilakukan oleh Yesus adalah berada di bawah bayangan salib. Hal ini tampak ketika Yesus hendak membasuh kaki para murid. Pertama kali IA menangggalkan jubah-Nya dan setelah itu IA mengenakannya kembali. Hal ini merupakan tindakan simbolis dari Yesus yang hendak menegaskan bahwa IA akan mengalami kematian tetapi sekaligus IA tidak akan bisa dikuasai kematian, atau IA akan bangkit kembali. Memang ada masa di mana Yesus harus menanggalkan jubah-Nya, dan semua itu dilakukan untuk membasuh kaki para murid. Semua ini melambangkan makna bahwa pembasuhan itu hendak mempersekutukan para murid dengan diri-Nya. Persekutuan itu pun hanya bisa terjadi ketika para murid mendapatkan penyucian (pembasuhan) melalui jalan kematian-Nya yang menebus.
Di sisi lain, pewujudnyataan pelayanan yang hina itu (membasuh kaki), yang dilakukan oleh pribadi Yesus sendiri, menuntut kemutlakan terhadap para murid. Para murid hanya bisa mengalami penyatuan persekutuan jika mereka memutlakkan diri mereka untuk menjawab peristiwa pembasuhan ini dengan cara melayani satu sama lain dengan kasih. Tentu saja Yesus tidak mengharapkan para murid saling membasuh kaki; karena bukan itu yang penting. Yang penting di sini adalah arti kiasan dari peristiwa pembasuhan; karena lihatlah betapa symbol dari Kerajaan Allah yang dibawa Yesus bukanlah berbentuk mahkota, melainkan berbentuk kain lap dan basi. Dengan demikian, pelayanan yang dimaksud Yesus di sini adalah masalah kesediaan untuk bertelut dan melayani Yesus dengan cara memperhatikan dan peduli terhadap sesama.
Apakah yang diajarkan kisah ini kepada kita? Sebenarnya kisah ini mau mengajarkan kepada kita tentang makna dari salib, yang menjadi jalan kehidupan Tuhan kita. Salib adalah lambang, symbol dan bermaknakan kerendahan hati, bukan kemewahan dan kesombongan. Salib juga menjadi lambang dari keyakinan bahwa manusia tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dan sekaligus ia tidak dapat membersihkan hatinya sendiri dari kejahatan. Semua hanya bisa teratasi bila ada kemauan untuk menyerahkan diri di bawah kaki salib. Sebab itu, setiap orang Kristen harus bersedia untuk disalibkan dan kemudian dibangkitkan kembali untuk memasuki hidup baru.
Namun “skandal” itu, yakni seorang Kristen yang harus tersalib dan dibangkitkan kembali untuk menerima pengampunan dosa dari Kristus, adalah inti terdalam dari Injil. Jika kita tidak mengalami pembasuhan melalui darah Kristus, maka kita tidak akan mengalami penebusan. Dan jika kita telah mengalami penebusan melalui pembasuhan dari Kristus, maka hal yang harus kita lakukan dalam kehidupan ini adalah membangun kehidupan yang lebih baik melalui pelayanan pembasuhan dosa kepada sesama, agar semua pengorbanan Kristus tidak menjadi sia-sia. Amin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar