Bacaan: Roma 12:1-2
Beberapa Catatan Pengantar:
- Ayat 1: Ungkapan “... itu adalah ibadahmu yang sejati”, agak lebih tepat jika kita memahami sebagai bentuk ibadah yang masuk akal (karena istilah ini diambil dari bahasa aslinya yaitu: logikos = masuk akal, dapat dimengerti/ dipahami). Berarti, jika dikatakan bahwa persembahan tubuh itu adalah ibadah yang sejati, maka ungkapan ini menegaskan bahwa ibadah yang bisa dimengerti dan dipahami Allah sekaligus masuk akal dan pikiran manusia adalah dengan cara menyerahkan seluruh hidup (totalitas) kita kepada Allah, Sang Pemilik Hidup. Jika dalam ibadah tidak ada ketundukan, maka ibadah itu adalah sia-sia dan tidak ada faedahnya sama sekali...
- Ayat 2: Istilah “berubah” berasal dari kata: metamorphoo = perubahan jati diri/ inti kehidupan. Jadi metamorphoo (metamorfosa) bukan sekadar perubahan bentuk, tetapi perubahan inti kehidupan. Yang semula dia adalah orang yang selalu merugikan orang lain, tapi kemudian berubah (bertobat) menjadi orang yang menguntungkan dan menyenangkan orang lain. Inilah makna kata metamorphoo.
- Kata “pembaharuan budi” berasal dari kata anakainosis tou nous = jiwa/ pikiran yang diperbaharui. Jadi pembaharuan budi bukan sekadar berubahnya pola pikir dan/ atau pertobatan hati; melainkan bentuk dari pertobatan keseluruhan yaitu pembaharuan cara hidup seseorang; baik dalam cara berbicara, berpikir, bertindak dan seluruh aspek kehidupan.
Rancangan Kotbah
Proses metamorfosa, yang mengubah ulat menjadi kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu, sungguh merupakan sebuah perubahan yang mengagumkan. Karena dalam perubahan itu terjadi sebuah perubahan besar, yaitu perubahan jati diri dan inti kehidupan (jadi bukan sekadar perubahan bentuk saja). Lihatlah perbedaannya saat sebelum dan sesudah metamorfosa; semula ia hanyalah seekor ulat yang menjijikkan, yang berjalan merangkak dengan sangat lambat, hidupnya makan daun dengan rakus dan keberadaannya sangat merugikan lingkungan. Tetapi setalah menjadi kupu-kupu, apa yang dilakukan oleh binatang tersebut? Ia akan terbang dengan menggunakan sayapnya yang indah dan tidak ada lagi kesan menjijikkan dalam dirinya. Kupu-kupu nampak anggun dalam kepakan sayapnya yang menghantar dia terbang melesat. Ia pun mengisap madu dan bahkan membantu penyerbukan silang sehingga ia menjadi binatang yang menguntungkan. Sungguh, terjadi perubahan total; dari gaya hidup yang merugikan menjadi gaya hidup yang menguntungkan/ menyenangkan...
Kata “metamorfosa” ini jugalah yang digunakan Paulus ketika ia menulis “berubahlah oleh pembaharuan budimu”. Paulus ingin agar jemaat di Roma benar-benar berubah, seperti perubahan yang dialami oleh ulat hingga menjadi kupu-kupu. Berubah dalam gaya hidup, cara pandang, dan juga cara jemaat menjalani kehidupan; semua harus mengalami perubahan. Melalui perubahan ini, jemaat diharapkan dapat “mana kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan yang sempurna”. Ya..., sebuah perubahan gaya hidup hendaklah membawa seseorang pada pertobatan total, dan bukan hanya sekadar perubahan bentuk saja...
Hidup kita perlu terus mengalami pertobatan. Harus terus bergerak dari gaya hidup ulat menuju pada gaya hidup keupu-kupu. Dan untuk menuju pada perubahan gaya hidup itu, kita perlu masuk ke dalam kepompong pertobatan; jadi tidak diam!. Tetapi bagaimana dan apa yang bisa mengantar kita masuk ke dalam kepompong pertobatan? Paulus menjawab bahwa jalan masuk menuju pada kepompong pertobatan itu adalah kesediaan untuk mempersembahkan diri sebagai persebahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan (ayat 1). Artinya: kita perlu selalu menyadari – dan kemudian membuktikan kepada dunia – bahwa atas kemurahan Allah dan kasih karunia-Nya, hidup kita ini adalah milik Allah.
Mari kita terus berubah agar semakin matang di dalam Tuhan. Hingga pada saatnya kelak, kita sungguh-sungguh berubah menjadi indah dan memberkati setiap orang yang melihatnya. Selamat berubah, jadikan dunia ini lebih cerah melalui perubahan hidup kita. Amin...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar